Gus Dur Sang Guru Pluralisme

ilustrasi, Presiden RI ke 4, Gus Dur

Jakarta, Demoktrasi Rakyat – Sudah 8 tahun, ulama sekaligus tokoh besar Indonesia,  KH. Abdurrahman Wahid, akrab di panggil Gus Dur, telah meninggalkan kita. Meskipun telah berpulang, karya-karya dan perjuangannya akan terus dan tetap hidup abadi. Banyak perjuangannya yang telah ia tempuh dalam menegakkan kebenaran yang di yakininya. Berpuluh – puluh tahun berjuang menegakkan HAM dan demokrasi, memperjuangkan pluralism dan ikut memikirkan pembangunan bangsa dan negara yang tercinta ini. Kepergiaannya bukan berarti pemikirannya ikut hanyut pula, ini menjadi pesan kepada kita semua bahwa perjuangannya harus dilanjutkan dan dirawat oleh segenap bangsa Indonesia.

Presiden ke 4 RI itu memang sosok yang telah memberikan banyak inspirasi yang tak ternilai. Gus Dur telah memberikan sumbangan pemikiran yang besar, dalam upaya membangun bangsa ini agar sejajar dengan bangsa-bangsa besar lainnya di dunia. Inspirasinya itu di cerminkan lewat perjuangannya yang tiada henti. Meskipun dalam kekurangan sekalipun, tak lantas membuatnya berhenti berjuang dalam membela kebenaran. Dan hingga kini semangat Gus Dur itu masih terus menggema, di perjuangkan oleh berbagai lapisan masyarakat, organisasi seperti gusdurian, wahid institute, NU dan lain-lain dalam rangka menyebarluaskan, merawat, dan terus menghidupkan pemikiran Gus Dur dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kontribusi pemikiran beliau amat luar biasa dan itu sebagian besar di torehkan lewat tulisan-tulisan bernas, yang jumlahnya begitu banyak. Sala satu isu yang menjadi perhatian besar Gus Dur adalah pluraslimse. Kala itu, Gus Dur ikut membela Ahmadiyah dan semasa menjadi Presiden, juga banyak mengeluarkan aturan yang hingga kini di rasakan manfatnya oleh banyak orang, seperti hari raya imlek (Tionghoa) yang di jadikan hari libur nasional. Yang paling fenomenal adalah pengusulan pencabutan TAP MPRS tentang penyebaran paham Marxis-Komunis. Namun hal itu, tidak mendapat dukungan dari DPR dan berbagai pihak lainnya.

Sebetulnya usulan itu merupakan sebuah gambaran pemikiran Gus Dur yang boleh dibilang sangat terbuka dan liberal. Pemikiran Gus Dur telah di akui banyak orang. Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang sangat pluralis dan humanis. Banyak orang yang corak pemikirannya mengikuti Gus Dur. Namun pemikiran Gus Dur itu kadang kala sering di salah tafsirkan oleh sebagaian orang. Tak jarang, Gus Dur disebut sebagai zionis dan kaki tangan bangsa Barat. Bagi Gus Dur sendiri, anggapan itu adalah hal yang wajar di era demokrasi.

Gus Dur merupakan sosok kharismatik dan juga unik. Tidak banyak tokoh yang seperti dirinya. Selain ulama, Gus Dur juga seorang Cendekiawan, dan budayawan. Tokoh yang pernah memimpin ormas Islam terbesar, NU. Gus Dur  adalah seorang seorang ulama yang terbuka dan moderat. Gus Dur sering mengadakan diskusi lintas agama. Maka tidak heran, jika Gus Dur sangat di kenal oleh tokoh dan pemeluk agam lain.

Dalam berjuang, Gus Dur adalah orang yang konsisten memperjuangkan apa yang menurutnya benar, apapun resikonya. Di mata dunia, Gus Dur di pandang sebagai tokoh besar, bahkan Gus Dur pernah di anugerahi sebagai bapak pruralisme Indonesia. Suatu penghormatan yang memang pantas di sematkan kepada seseorang yang separuh hidupnya mengabdi dan memperjuangkan keadilan, terutama perihal keagamaan. Sebagai tokoh besar yang di hormati, disisi lain sosok Gus Dur adalah sosok yang sederhana. Itu terlihat dari rasa humornya yang tinggi. Dan sebagai seorang ulama Gus Dur mempunyai hobi yang unik, yang mungkin mayoritas ulama tidak menyukainya, yakni mendengarkan lagu-lagu barat. Pada titik ini dapat dilihat kebesaran Gus Dur selain dari pemikirannya juga dari sisi kesederhanaanya yang luar biasa.

 

Share this post

PinIt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top