Desa Sianjur Mula Mula: Antara Legenda dan Fakta

Drs. Yance, M.Si / Dosen Antropologi, FISIPOL, Universitas Sumatera Utara

Menurut legenda yang diketahui, sebagian besar etnik Batak, khususnya sub etnik Batak Toba, Desa Sianjur Mula Mula adalah desa pertama yang dibangun oleh leluhur etnik Batak Toba. Dari desa itu kemudian menyebar ke berbagai wilayah di sekitar Danau Toba dan wilayah lain di luar kawasan Danau Toba. Tulisan ini berusaha melihat keselarasan antara cerita legenda tersebut dengan fakta empirik, berdasarkan kajian ilmu arkeologi.

Profil Desa Sianjur Mula Mula Masa Kini

Desa Sianjur Mula Mula sekarang merupakan bagian dari Kecamatan Sianjur Mula Mula, dan Desa Ginolat berstatus sebagai ibu kota kecamatan. Luas daratan Kecamatan Sianjur Mula Mula meliputi 140,24 km2 (9,71 % dari luas wilayah Kabupaten Samosir). Kontur topografi Desa Sianjur Mula Mula bervariasi mulai datar, landai, miring dan terjal. Struktur tanahnya labil dan berada pada jalur gempa tektonik dan vulkanik. Desa Sianjur Mula Mula memiliki 3 dusun, dimulai dari yang tertua Dusun Huta Lobu Simanampang, ke dua Dusun Batu Sitabo dan yang paling muda, Dusun Huta Balian. Jumlah penduduk Desa Sianjur Mula Mula 391 jiwa, jumlah rumah 122, dengan distribusi 26 rumah di Dusun Huta Lobi Simanampang, 46 rumah di Dusun Batu Sitabo dan  50 rumah di Dusun Huta Balian.

Sebagian besar penduduk berprofesi sebagai petani dan 10 orang berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (guru). Di desa Sianjur Mula Mula hanya ada 1 Sekolah Dasar Negeri. Di desa  Sianjur Mula Mula terdapat 2 (dua) sungai, Bitangor dengan debit 3,5 m3 / detik dan Bagas Silimbong dengan debit 2 m3 / detik. Di samping itu terdapat 6 mata air yaitu Toba Toba A, debit 20 liter / detik, Toba Toba B, debit 10 liter / detik, Si Tio Tio A, debit 6 liter / detik, Si Tio Tio B, debit 8 liter / detik, Bulu Gading, debit 35 liter / detik dan Aek Bintatar, 15 liter / detik. Air dari mata air digunakan untuk kebutuhan domestik, dan air sungai untuk irigasi teknis. Curah hujan rata – rata per bulan 208 mm, kelembaban rata – rata 85,04 %, dan temperatur rata – rata berkisar antara 17°C – 29°C. Hasil pertanian yang utama adalah padi dengan luas areal 95 ha, kopi, coklat, bawang dan kacang kacangan. Hasil pertambangan umumnya tergolong galian C.

 Perhitungan Daya Dukung Lahan Pertanian

Dengan luas lahan padi sawah 95 ha, jumlah penduduk hampir 400 jiwa, tingkat konsumsi beras per kapita pertahun 130 kg per tahun, tingkat produktivitas rata – rata 6,5 ton / ha, dengan menggunakan formula Odum, Howard dan Issard, dapat dihitung kemampuan daya dukung lahan pertanian di Desa Sianjur  Mula Mula yaitu 7,2. Angka ini jauh di atas 1, artinya desa ini memiliki surplus yang cukup besar. Jika diasumsikan tingkat produktivitas pada masa lampau hanya 1/5 tingkat produktivitas masa kini, karena tidak menggunakan pupuk an organik, benih unggul dan irigasi teknis serta pestisida, herbisida dan insektisida, maka diperoleh angka daya dukung lahan pertanian sebesar 3,6. Angka ini juga masih lebih besar dari 1. Artinya Desa Sianjur Mula Mula sejak dahulu memiliki kemampuan daya dukung lahan pertanian yang cukup besar dan mampu berswasembada beras. Fakta ini adalah konfirmasi pertama tentang potensi kemungkinan Desa Sianjur Mula Mula menjadi desa pertama yang dibangun oleh leluhur etnik Batak.

Baca Juga  Peluang Dan Risiko Hidup Di Negeri Cincin Api

 Perhitungan Daya Dukung Sumberdaya Air

Total debit air permukaan yang terdapat di Desa Sianjur Mula  Mula adalah 5,6 m3 / detik. Dengan total curah hujan rata – rata sepanjang tahun 2.292 mm dan jumlah hari hujan rata – rata dalam setiap bulan 18 hari hujan, agaknya ketersediaan air cukup besar untuk menopang kehidupan menetap sepanjang tahun. Untuk lebih meyakinkan, dilakukan perhitungan daya dukung sumberdaya air secara kuantitatif dengan menggunakan formula yang di sarankan di dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 17 Tahun 2009. Hasil perhitungan menunjukkan angka 1,54, di atas 1, artinya ketersediaan air di sana lebih dari cukup. Jika menggunakan ukuran yang ditetapkan WHO, badan organik PBB yang mengurus masalah kesehatan, kebutuhan air tiap orang untuk dapat hidup layak berkisar antara 1.000 – 2.000 m3 per kapita per tahun.

Angka standard yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup adalah 1.600 m3 per orang per tahun. Standard apapun yang digunakan,  ketersedian ril air di Desa Sianjur Mula Mula lebih dari cukup untuk menopang kehidupan menetap sepanjang tahun. Jika diasumsikan kebutuhan air pada kehidupan di masa lalu, lebih sedikit dibanding dengan masa kini, maka angka indeks tersebut jadi lebih besar lagi, karena angka itu (1,54), didapat dengan perhitungan tingkat kebutuhan air di masa kini. Hasil perhitungan kemampuan daya dukung sumberdaya air adalah konfirmasi ke dua terhadap potensi kemungkinan Desa Sianjur Mula Mula menjadi kandidat desa tertua di kawasan Danau Toba.

Relasi Kajian Lingkungan Dengan Temuan Arkeologi

Berdasarkan penelitian genetika oleh Lembaga Eijkman, diketahui leluhur orang Batak berasal dari Taiwan (Teori Out of Taiwan) dan mulai masuk ke kawasan Toba sekitar 1200 – 1000 tahun yang lalu. Hasil ekskavasi arkeologi di Desa Sianjur Mula Mula menghasilkan temuan gerabah, arang dan feature bekas tiang. Hasil perhitungan usia arang dengan teknik C14 (radio karbon) menunjukkan usia 600 tahun. Berdasarkan cerita rakyat Desa Sianjur Mula Mula pada awalnya berada di sebelah barat mata air Aek  Bintatar. Kemudian desa itu dipindahkan ke arah timur, mendekati perbukitan di sisi timur. Jarak lokasi desa lama dengan desa baru lebih kurang 400 meter. Perpindahan desa ini diduga untuk menjaga kelestarian mata air Bintatar. Semakin lama jumlah penduduk semakin bertambah. Jika desa diperluas ke arah barat, dapat mengancam kelestarian sumber air itu. Oleh karena itu masyarakat berinisiatif memindahkan lokasi desa menjauhi mata air Bintatar. Perpindahan itu diduga  berlangsung pada 200 tahun lalu. Dugaan ini didasarkan pada kajian bentuk arsitektur rumah adat, jenis bahan bangunan dan teknologi pembuatan rumah rumah yang masih ada saat ini.

Taksiran waktu perpindahan juga didasarkan pada posisi kedalaman temuan arkeologi dan perhitungan laju tingkat erosi dan sedimentasi dari lereng perbukitan di sekitar lokasi. Perhitungan laju tingkat erosi di di lokasi, dilakukan dengan menggunakan formula yang dikembangkan oleh Wischmeir dan Smith yang dikenal juga sebagai formula USLE. Untuk mempertajam hasil perhitungan, kemudian dilakukan perhitungan dengan menggunakan formula SDR (Sediment Delivery Ratio). Hasil perhitungan diperoleh bahwa laju erosi dan sedimentasi di Desa Sianjur Mula Mula adalah 0,3 cm per tahun. Jika diasumsikan laju erosi dan sedimentasi bersifat stabil, ajek, maka dalam waktu 200 tahun, maka dihasilkan ketebalan sedimen sebesar lebih kurang 60 cm. Hasil ini sejalan dengan kedalaman artefak temuan arkeologi yaitu berkisar antara 0,5 – 0,8 m.

Baca Juga  Warga Ujung Batu Tegaskan Lapangan Conoco Miliknya

Dilihat dari peta dan lokasi ril, perpindahan desa itu berjarak cukup dekat dan berada dalam lintasan garis lurus. Masyarakat Sianjur Mula Mula pada masa lampau sudah memiliki kesadaran dan wawasan ekologis tentang pelestarian sumberdaya alam. Posisi keletakan desa yang lama dan yang  baru berada di kaki perbukitan. Penduduk desa pada masa lampau tidak mau membangun desa di cekungan lembah dengan alasan: (1). Mereka tidak mau mengorbankan lahan pertanian yang subur untuk dijadikan desa; (2). Jika turun hujan maka cekungan lembah akan tergenang air. Mereka tidak membangun rumah di tepi danau, karena sulit mendapatkan makanan berbasis karbohidrat. Dengan memilih tinggal di kaki bukit, mereka bisa mendapatkan karbohidrat sekaligus protein dan sumber air bersih yang melimpah.

Lokasi Desa Sianjur Mula Mula sangat strategis, lokasinya relatif datar, dikelilingi perbukitan, membentuk huruf U, dengan sisi selatan terbuka ke arah danau. Sebagian besar lahan berupa cekungan lembah yang subur sepanjang lebih kurang 4,5 km dari tepi air danau hingga kaki bukit. Wilayah Desa Sianjur Mula Mula mencakup hanya sebagian dari cekungan lembah  subur tersebut. Wilayah cekungan lembah memiliki tingkat kesuburan paling tinggi, karena solum tanahnya tebal. Hal ini disebabkan karena menerima bahan mineral yang dihanyutkan oleh aliran air hujan dari lereng perbukitan di sekitarnya. Kombinasi letak strategis, cekungan lembah yang subur dan ketersediaan air yang melimpah, membuat Desa Sianjur Mula Mula menjadi lokasi pemukiman yang ideal. Tidak banyak ditemukan lokasi seperti ini di sekitar Danau Toba, sehingga tidak mengherankan jika desa ini dipilih oleh leluhur etnik Batak Toba sebagai lokasi pemukiman permanen. Sampai sejauh ini kajian lingkungan dan arkeologi telah berhasil mengkonfirmasi keakuratan legenda Desa Sianjur Mula Mula. Konfirmasi data arkeologi berperan penting, karena memberikan informasi tentang masa lalu, yang dekat dengan masa yang dikisahkan oleh legenda tersebut. Kemampuan  data arkeologi yang ada hingga saat ini hanya dapat memberikan konfirmasi hingga ke masa 600 tahun yang lalu.

 Celah Yang Belum Terisi

Celah yang yang dibuat oleh penelitian genetika mencakup durasi waktu 400 – 600 tahun. Berdasarkan hitungan jumlah generasi di antara marga – marga tertua yaitu, Limbong, Sagala, Malau, yaitu 20 – 22 generasi, dengan asumsi jarak waktu antar level tiap generasi rata rata 30 tahun, maka hal ini sesuai dengan temuan arang di situs Sianjur Mula Mula yang usianya mencapai 600 tahun. Pembentukan marga pasti dilakukan setelah terbentuk sistem  dan struktur sosial di kalangan masyarakat Batak. Struktur sosial terbentuk setelah orang Batak mulai menerapkan cara hidup menetap secara permanen pada 600 tahun yang lalu. Hal ini menimbulkan pertanyaan, bagaimana cara hidup orang Batak antara 1200 atau 1000 hingga 600 tahun lalu?.

Baca Juga  Perlukah Sekolah Minggu diatur Negara?

Pertanyaan ini mendorong dirumuskannya 3 skenario (hipotesis), yang jawabannya baru dapat ditentukan kebenarannya melalui penelitian mendalam di masa depan. Adapun skenario yang diajukan adalah: (1). Leluhur orang Batak membangun desa pertama kali bukan di Sianjur Mula Mula, melainkan di tempat lain yang belum diketahui lokasinya; (2). Leluhur orang Batak ketika mendiami kawasan Toba, melakukan praktek hidup semi permanen (perladangan berpindah), dan baru mulai memantapkan pola hidup menetap di desa Sianjur Mula  Mula  pada 600 tahun lalu. Berdasarkan skenario ini diduga leluhur orang Batak melakukan cara hidup semi permanen selama 400 – 600 tahun; dan (3) Leluhur orang Batak sejak pertama masuk ke kawasan Toba sudah melakuksn pola hidup menetap dengan didukung sistem pertanian padi sawah dan padi ladang, tetapi bukti fisiknya berupa data arkeologi belum ditemukan.

Saya lebih condong dengan skenario ke 3, dengan argumentasi : masa awal kedatangan leluhur orang Batak ke wilayah Toba yaitu awal millenium ke 2 atau akhir millenium ke 1, teknologi bercocok tanam menetap sudah dikenal luas di kawasan Asia Tenggara Daratan dan Kepulauan Nusantara. Di duga kuat, leluhur orang Batak telah mengenal dan menguasai teknik bercocok tanam menetap.

Rekomendasi

Untuk menguji hipotesis yang diajukan, perlu didesain penelitian mendalam yang harus dilakukan di masa depan, makin cepat, makin baik. Penelitian yang akan dilakukan difokuskan untuk mencari 3 bukti penting yang dapat menguji kebenaran hipotesis yang diajukan. Adapun 3 bukti penting yang dimaksud adalah: (1). Alat alat pertanian dari logam yang usianya lebih tua dari 600 tahun; (2). Serbuk sari tanaman atau sisa sisa kulit padi yang usianya  lebih tua dari 600 tahun; dan (3). Sisa arang yang menunjukkan adanya aktivitas manusia yang usianya lebih tua dari 600 tahun.

Dua penelitian arkeologi dan kajian lingkungan yang telah dilakukan mampu memberikan konfirmasi terhadap kebenaran legenda Desa Sianjur Mula  Mula sampai pada masa 600 tahun lalu. Penelitian di masa depan mempunyai peran penting dan sifatnya strategis, karena berpotensi menjawab tuntas pertanyaan tentang masa – masa awal terbentuknya masyarakat Batak berikut peradaban pra kristen yang menjadi landasannya. Mengingat pentingnya penelitian yang akan datang, melalui tulisan ini saya menghimbau pihak pihak yang berwenang dan berkepentingan dengan issu tersebut agar dapat merencanakan dan mengalokasikan anggaran penelitian untuk tujuan yang telah diuraikan. Penelitian itu dapat melibatkan lebih dari satu institusi dalam bentuk kerjasama riset.

Share this post

PinIt
scroll to top