Puluhan Polisi Kembali Dipropramkan, Penegakan Hukum Terancam Kapolri Diminta Turun Tangan Bereskan Anak Buahnya

Jakarta, Demokrasi Rakyat-Puluhan penyidik dari Kepolisian Resort Jakarta Utara kembali dilaporkan ke Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Metrojaya lantaran diduga menghilangkan barang milik terdakwa yang tidak dijadikan barang bukti di pengadilan.

Barang yang dimaksud berupa satu unit sepeda motor dengan No Pol. B 3928 KIC merek Suzuki Fu 150, warna abu-abu.

Pengacara Rakyat Yosep Sinar Surya Siahaan mengatakan, kinerja sejumlah penyidik kepolisian sudah sering terungkap kebobrokannya. Dia meminta pimpinan Polri dan Propam memberikan sanksi tegas kepada anggota kepolisian yang tidak profesional.

“Pak Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian selalu mendorong agar penyidiknya profesional, adil dan tidak mempermain-mainkan para pencari keadilan. Nyatanya, hingga kini malah kian menjadi-jadi perilaku tidak profesional dari penyidik di bawah. Mereka seperti itu harus ditindak tegas. Malu dong, Kapolri sudah instruksikan bekerja profesional malah di bawah aneh-aneh,” tutur Yosep Sinar Surya Siahaan, di Jakarta, Rabu (29/08/2018).

Dia mengatakan, kinera penyidik kepolisian dalam mengusut sebuah kasus, adalah pintu awal penegakan hukum. Namun, jika sejak awal saja sudah banyak keanehan, mestinya pimpinan turun langsung melakukan teguran dan memberikan tindakan langsung.

Dijelaskan Yosep, bukan sekali dua kali mereka melaporkan oknum penyidik ke Propam, hampir setiap kasus ada saja kinerja penyidik yang sangat tidak profesional. “Coba tanya deh semua teman-teman lawyer dan pencari keadilan, betapa banyak penyidik yang bermain-main dengan pencari keadilan. Malah banyak hal yang dikaburkan, sehingga penegakan hukum semakin asal-asalan,” tukasnya.

Dendi Kuswardhana melaporkan Brigadir Khoirul Setiawan dkk ke Propram Polda Metrojaya, kemarin. Pria yang bekerja sebagai Satpam ini heran dengan dijadikannya anaknya sebagai tersangka atas perkara yang tidak jelas, kemudian sepeda motornya pun hilang saat berada di tangan polisi.

Baca Juga  TPJ: Kembalikan Marwah Penegakan Hukum yang Berkeadilan

“Saya melaporkan Brigadir Khoirul Setiawan dan kawan-kawannya di Satreskrim Polres Metro Jakarta Utara. Kami perlu keadilan dalam kasus ini,” pintanya.

Pria kelahiran Surabaya, 08 Desember 1966 itu mengatakan, dirinya telah melaporkan pelanggaran atas  tidak menjalankan tugadugaan adanya petugas Polres Jakarta Utara yang tidak profesional, tidak proporsional, dan tidak prosedural dalam menjalankan tugas kepolisian.

“Jadi, ditemukan fakta bahwa terdakwa yakni anak saya Septian, pada saat dilakukan penangkapan sedang mengendarai sepeda motor berboncengan dengan temannya bernama Yulianto. Namun ada kejanggalan bahwa barang bukti sepeda motor No Pol. B 3928 KIC merek Suzuki Fu 150 warna abu-abu yang dikendarai itu tidak dimasukkan ke dalam surat penyitaan, dan hingga saat ini tidak jelas keberadaannya,” tutur Dendi.

Dia mengatakan, terlapor pada saat melakukan penangkapan oleh anaknya, yang jadi pelapor atas nama Septian Sarip yang didakwa melakukan tindak pidana pencurian dengan kekerasan sebagaimana diatur dalam pasal 365 KUHP yang saat ini sedang melaksanakan persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara dengan agenda pemeriksaan saksi.

Dengan adanya kejadian tersebut, pelapor merasa dirugikan dan keberatan sehingga melaporkan ke Subbag Yanduan Bidpropam Polda Metro Jaya, sesuai Laporan Polisi Nomor: LP/65/VIII/REN.4.1.1/2018/Subbag Yanduan, tanggal 28 Agustus 2018.

Dendi pun berharap, dirinya dan anaknya serta keluarganya mendapat keadilan yang seadil-adilnya. “Anak saya dikriminalisasi, ditembak tanpa alasan yang jelas, motornya pun hilang padahal bukan barang bukti, dan itu sedang di tangan polisi. Kok bisa hilang? Sungguh kami perlu keadilan,” tuturnya.

Laporan Dendi diterima oleh Brigadir Pol Teguh Apriyanto dari bagian Bamin I Monev Propam Polda Metrojaya pada Selasa, 28 Agustus 2018, pukul 14.48 WIB.

Sebelumnya, sebanyak 29 penyidik Polres Jakarta Utara dilaporkan ke Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Metrojaya. Ke-29 anggota itu diduga telah melakukan salah tangkap, penganiayaan, kriminalisasi dan penembakan sengaja kepada anak remaja, bernama Septiyan Sarip bin Dendi Kuswara (19 tahun) dan Riki Ramdhani bin Sa Ali (18 tahun).

Baca Juga  Tuntut Kemerdekaan Beribadah, Umat Kristiani Bekasi Mengadu ke Komnas HAM

Ke-29 anggota polisi dari Polres Jakut yang dilaporkan itu adalah AKP Sutikno, Iptu Rindu Simanjuntak, Aiptu Robby Parinusa, Aiptu Syahrul, Aiptu Sudrajat, Aiptu Edy Waluya, Aiptu Tony Kusbiantoro, Aiptu Jainal, Aiptu Andi Suhandi, Aipda Dicky Lesmana, Bripka Kartono, Bripka Bayu Aryawan, Bripka Suwandi Antapraja, Bripka Romai Teguh, Bripka Hardi Juniardhan, Bripka Guntur Subekti, Brigadir Khoirul Setyawan, Brigadir Nurman Laksono, Brigadir Khalid Rinaldi, Bripda Aditya Rahmat P, Aiptu Ismadi, Aipda Nur Hidayat, Bripka Ferry Morris, Bripka Citadi Akbar, Brigadir Lukman Nulhakim, Brigadir Benny Okey Daniel S, Bripka Doni Kurnia, Bripda M Wildan Gunawan dan Bripda Widodo.

“Kami meminta segera dikeluarkan dan dibebaskan kedua adek kami, Septyan dan Riki. Mereka tidak bersalah. Mereka korban kekerasan dan dikriminalisasi oleh oknum aparat. Ingat, Septyan sudah dibuat cacat karena ditembak, mereka dikriminalisasi dengan sewenang-wenang,” pungkas Yosep. (Jhon R)

Share this post

PinIt
scroll to top