Putri Betawi Nyaleg; Jakarta Butuh Sentuhan Perempuan

Jakarta, Demokrasi Rakyat-Jakarta selain sebagai Ibukota Negara, juga telah menjadi sebuah Megapolitan. Dengan kepadatan penduduk yang tiap tahun meningkat tajam, persoalan kian sulitnya hunian dan kesemrawutan kehidupan sosial serta perlunya penataan kota yang manusiawi adalah dambaan setiap orang.

Dewi Angraeni, SE., MM., wanita kelahiran Jakarta pada 6 Oktober ini, merasa tersentuh dengan keseharian masyarakat Jakarta yang seperti tak ada habisnya. Sebuah kota yang sangat padat penduduknya, dengan berbagai macam kebutuhan dan kepentingan. Kota yang bagi sebagian besar orang disebut sebagai kota yang keras, kejam bahkan sangar.

Menurut putri asli Betawi ini, Ibukota butuh sentuhan perempuan untuk mengurai dan menyelesaikan persoalan-persoalan riil masyarakat Jakarta sehari-hari.

“Masyarakat kita hari ini sangat membutuhkan peran wanita untuk membenahi dan memperbaiki kehidupan sosial kemasyarakatan Ibukota. Persoalan gizi buruk, pendidikan anak usia dini, kekerasan anak di bawah umur, kesehatan lingkungan dan masih banyak lagi persoalan-persoalan sosial yang menjadi realitas keseharian masyarakat Jakarta. Ini harus disikapi dengan sentuhan kaum perempuan,” tutur Dewi Angraeni kepada Demokrasi Rakyat, di Jakarta, Minggu (14/10/2018).

Dewi menyadari, selama ini kaum perempuan masih dianggap sebagai objek dari pembangunan. Padahal, lanjut dia, sudah sejak lama dibuktikan bahwa perempuan berhasil menjadi subjek dari pembangunan. Oleh karena itu, menurut Dewi lagi, istilahpemberdayaan perempuan sudah tidak cocok digunakan.

“Yang lebih pas itu adalah istilah peningkatan pemberdayaan perempuan,” tutur kader Partai Persatuan Indonesia (Perindo) besutan Hary Tanoesudibjo itu.

Dewasa ini, menurut cucu Ulama dan Pengusaha Besar Betawi dari Kemayoran Haji Rais, perjuangan panjang kaum perempuan masih menghadapi banyak kendala. Masih sering ditarik ke perdebatan kontroversi. “Ruang publik kita hari ini masih didominasi pola patriarki dan corak maskulin dalam setiap ranah,” ujar Dewi Angraeni.

Hal tersebut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan peran wanita terbatas di masyarakat. Padahal, lanjut dia, banyak persoalan di masyarakat yang sangat membutuhkan peran perempuan.

Dia setuju bahwa untuk menghadapi realita di dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat, perlu diberikan kesempatan dan kepercayaan bagi wanita untuk mengisi ruang publik, terkhusus dalam kursi pemerintahan dan legislatif.

Baca Juga  Lintong Manurung Dorong Industri Nasional Berbasis Pangan, Energi dan Sumber Daya Air

Dewi mengingatkan, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pun telah membentuk Kaukus Perempuan Parlemen dan Kaukus Politik Perempuan Indonesia untuk memberikan ruang bicara dan diskusi kepada kaum perempuan yang dipercayakan menjadi wakil rakyat mewakili daerah-daerah pemilihan masing-masing.

Kaum perempuan, lanjut dia, bisa melakukan kajian atas persoalan di masyarakat dan menyusun rancangan program-program di masyarakat. “Yang hasilnya kemudian dibawa ke dalam rapat di komisi masing-masing di DPR,” tuturnya.

Dengan segala pertimbangan dan kemampuan yang dimilikinya itu, Dewi Angraeni yang merupakan seorang pengusaha ini memutuskan untuk maju dalam bursa pemilihan calon legislatif (Caleg) Partai Perindo dengan nomor urut 6, dari Daerah Pemilihan (Dapil) DKI Jakarta 1 di Kota Administrasi Jakarta Timur, yang meliputi Kecamatan Matraman, Pulogadung dan Cakung.

Terkhusus untuk Dapil DKI Jakarta 1 ini, diungkapkan Dewi Angraeni, persoalan kesehatan lingkungan, khususnya sanitasi air menjadi salah satu urgen yang sangat membutuhkan perhatian.

Sebagai putri asili Betawi, Dewi merasa trenyuh dan sangat prihatin melihat kondisi kaum ibu dan anak-anak Betawi di Jakarta Timur.

Menurut perempuan yang ramah dan luwes ini, meski dalam beberapa instansi sudah mulai muncul peran serta perempuan, namun dalam penanganan persoalan perempuan dan anak masih sangat minim.

Dia pun telah menyusun program kerja untuk ditawarkan kepada masyarakat yang bermukim di daerah-daerah industri di Jakarta Timur itu.

Disampaikan Dewi, limbah pabrik di Kawasan Pulo Gadung dan Cakung menyebabkan warga di sekitar daerah berdirinya pabrik kesulitan mendapatkan air bersih.

“Masyarakat kesulitan memperoleh air bersih dan sanitasi untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya untuk kebutuhan minum, cuci dan mandi,” ungkapnya.

Dewi menuturkan, banyak pengaduan dari warga di Dapilnya terkait persolan kesehatan lingkungan di tempat mereka. Kepekaannya mendengar masalah lingkungan dari warga membuat Dewi berkomitmen untuk segera melakukan perubahan nyata atas persoalan tersebut.

“Saya tidak ingin hanya menjadi pendengar atas persoalan yang dialami warga. Saat ini warga membutuhkan seorang wakil mereka di DPR untuk segera memberikan kerja nyata demi perubahan atas persoalan lingkungan hidup, khususnya sanitasi air,” tegas Dewi.

Lebih lanjut, dijelaskan dia, realitas sehari-hari, kebutuhan akan air bersih tidak dapat dihindarkan di Jakarta. “Di rumah, saya adalah seorang Ibu yang mengurus keluarga. Air adalah kebutuhan dasar setiap hari, apabila kondisi air sudah tidak bersih lagi, tentunya hal ini membuat banyak kesulitan dan berdampak terhadap kesehatan dan pengeluaran ekonomi,” ujarnya.

Dewi berjanji, apabila dirinya dipercaya menjadi wakil rakyat di DPR dari Dapil 1 DKI Jakarta, ia akan fokus melaksanakan program kerja mengatasi persoalan sanitasi dan air.

Dijelaskan Dewi, Instalasi Pengolahan Air (IPA) di DKI Jakarta menjadi tawaran solusi. Dia meminta pemerintah perlu terusmendorong program ini.

“Agar sistem pengolahan air tersebut dapat juga dinikmati oleh warga di daerah industri seperti Cakung dan Pulo Gadung. Besar harapan saya program pengolahan air ini juga bisa ada sampai ke daerah-daerah lainnya,” tuturnya.

Kader Perempuan Partai Perindo yang pernah menjadi Sekretaris Jenderal Persatuan Masyarakat Sumatera (Permara) ini, belum lama menyelesaikan pendidikannya di Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas). Selain berkecimpung dalam dunia usaha, Dewi juga menjadi seorang pengajar atau dosen di Perguruan Tinggi.

Menurut Dewi, Partai Perindo menunjukkan perhatian khusus terhadap Peningkatan Pemberdayaan Perempuan. Hal itu diwujudkan dengan memilih dan menetapkan kader-kader wanita sebagai calon legislatif dalam Pemilu Serentak yang akan dilaksanakan pada bulan April 2019 mendatang.

Baca Juga  Plt Bupati Labuhanbatu: 4 Konsep Lahirkan Generasi Berakhlak dan Mandiri

“Saya berharap, kaum perempuan yang berkesempatan maju sebagai Caleg, nantinya terpilih dan menjadi agen perubahan nyata di masyarakat dan negara ini,” ujar Dewi Angraeni.

Putri kandung dari Tokoh Betawi ini mengaku banyak belajar dari ayahnya dalam urusan politik dan pemberdayaan masyarakat.

Ayahnya, Drs KH Mohammad Hatta Rais, adalah anggota DPR RI di zamannya Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden. Ayahnya juga pernah menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta. “Saya banyak belajar dari Almarhum papa saya,” ujar Dewi Angraeni.

Anak kedua dari enam bersaudara ini juga dikenal sebagai sosok yang ramah, bersahabat, suka olah raga dan memiliki cita-cita yang tidak biasa dari kebanyakan masyarakat Betawi.

Dia mampu menghancurkan stereotipe terhadap masyarakat Betawi yang cenderung di-labelkan tidak mau mengecap pendidikan tinggi, dan kaum perempuannya dianggap tidak terlalu penting untuk bersekolah.

Jika me-review filem Betawi yang tersohor itu, Si Doel Anak Betawi, menurut Dewi Angraeni, kondisi seperti itulah yang hendak ditunjukkannya. “Saya ingin memajukan perempuan-perempuan Indonesia, terutama perempuan dan masyarakat Betawi,” ujar Dewi.

Terbukti, Dewi Angraeni banyak mengecap bangku perkuliahan, hingga menamatkan pasca Sarjananya di Negeri Jiran, Malaysia.

Pendidikan, lanjut Dewi, sama seperti membaca buku. Pendidikan adalah jendela dunia, untuk membuka cakrawala berpikir dan maju.

Dewi banyak bergaul dengan semua kalangan masyarakat. Tercatat dia juga aktif melakukan kerja-kerja sosial sebagai Sekretaris Jenderal Persatuan Masyarakat Sumatera (Permara).  Pada 2015, Dewi juga sudah menyelesaikan pendidikannya di Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas) Republik Indonesia.

Dewi juga aktif di Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI). “Di departemen, mengurusi masyarakat Nelayan,” ujarnya.

Saat ini juga, Dewi menggeluti profesi sebagai pengusaha. Dia mengungkapkan, rekan-rekan bisnisnya dari berbagai kalangan dan negara, banyak kaum perempuan. Artinya, kaum perempuan Betawi juga mampu go international, karena memiliki ilmu dan pendidikan serta kemampuan yang bagus.

“Saya hendak mengabdi, fokus pada pendidikan kaum perempuan dan anak-anak, fokus pada penyelesaian berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, khususnya kaum perempuan dan anak-anak. Terkhusus di Dapil 1 DKI Jakarta, bagi kaum perempuan dan anak, juga memajukan masyarakat, terutama perempuan dan anak-anak Betawi,” ujarnya. (Jhon R)

Share this post

PinIt
scroll to top