Atasi Krisis Identitas dan Jatidiri, Generasi Muda Mesti Doyan Sejarah Indonesia

Jakarta, Demokrasi Rakyat-Generasi muda Indonesia diyakini sedang mengalami krisis identitas dan jatidiri di era milenial ini. Pengaruh negatif bangsa asing yang begitu bebas masuk ke Indonesia pun harusnya dihempang.

Oleh karena itu, Negara dan Pemerintah serta para orang tua berkewajiban melindungi sejarah dan budaya Indonesia. Caranya, salah satunya dengan melibatkan langsung generasi muda dalam kegiatan-kegiatan budaya dan kesejarahan Indonesia.

Founder Komunitas Doyan Sejarah (#DS), Sudjiwo menuturkan, arus globalisasi, modernisasi, dan westernisasi yang pengaruhnya begitu massif, membuat generasi muda kehilangan kepercayaan diri akan identitas dan jatidiri terhadap rentetan sejarah panjang Indonesia.

 “Hal ini diukur dengan seberapa lengkap pengetahuan dan kemampuan mengejawantahkan sejarah di dalam perikehidupan berbangsa dan bernegara hari ini,” tuturnya dalam Pemutaran Film Dokumenter ‘Pujangga Agung R Ng Ronggowarsito’ dan ‘Diskusi Karya R Ng Ronggowarsito, Meramalkan atau Mendeskripsikan Peradaban Besar Nusantara?’, di Studio Mini Theater Lantai 8, Perpusatakaan Nasional Republik Indonesia, Jalan Merdeka Selatan, Nomor 11, Jakarta Pusat, Kamis (01/11/2018).

Djiwo, sapaan akrabnya, menyebut bahaya laten dari kondisi tersebut berdampak pada keaslian sejarah itu sendiri.

Ketika eksistensi sejarah mengalami kesenyapan dan tidak lagi digaungkan, lanjutnya, lalu dituangkan ke dalam bentuk literatur, dan dideskripsikan dalam usaha untuk menghidupkan sejarah itu kembali, terjadi degradasi dan distorsi.

“Bahkan bisa menebak-nebak, sehingga sejarah mengalami pengkaburan, pergeseran, dan penyesatan,” ujarnya.

Komunitas Doyan Sejarah (#DS) bersama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sebagai lembaga pemerintah dalam tugas dan fungsinya, mengadakan kegiatan bertajuk Doyan Sejarah.

Djiwo menyampaikan, kegiatan membangun pemahaman melalui nonton bareng film dokumenter sejarah, objek sejarah yang ditayangkan diambil dari biografi dan karya dari pujangga tanah Jawa Raden Ngabehi Ronggowarsito, sebagai salah satu upaya menghempang krisis identitas dan jatidiri bangsa.

Sudjiwo menggangas sejumlah kegiatan untuk tujuan itu. Rangkaian kegiatan dimulai dengan penayanggan film yang berdurasi sekitar 30 menit, kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab.

Dia berharap, metode belajar dengan menggunakan pola audiovisual bisa mempermudah peserta memahami peristiwa jejak sejarah melalui film yang dibuat langsungnya langsung, sebagai fasilitator dari Perpusnas RI.

Dia mempromosikan, siapa saja yang ingin bergabung untuk berlajar bersama, bisa datang langsung karena kegiatan yang dibuka untuk umum. Berlokasi di lantai 8 Jalan Medan Merdeka Selatan No.11, Gambir, Senen, Jakarta Pusat.

“Ke depannya Komunitas Doyan Sejarah akan mengadakan study tour ke candi-candi di Jawa Tengah, untuk menapaki jejak dan catatan sejarah secara lebih dekat,” ujarnya.

Perpusatakaan Nasional Republik Indonesia juga hendak membangun kesadaran generasi muda, dengan budaya menonton film sejarah, serta diskusi rutin.

Perpustakaan Nasional menyediakan media belajar yang nyaman dan lengkap untuk para pengunjung yang datang.

Fasilitas yang disediakan pemerintah ini mesti digandrungi oleh anak muda untuk membangun kesadaran dalam menata pengetahuan dengan baik sehingga nantinya akan muncul agen-agen perubahan bangsa kearah yang lebih baik sehingga tercipta sumber daya manusia yang mumpuni dalam mengarungi tantangan di era revolusi industri 4.0.

“Cita-cita luhur ini harus diwujudkan sebagaimana termaktub di dalam UUD 1945 alinea ke-4 yakni mencerdaskan Kehidupan Bangsa,” ujarnya.

Djiwo mengatakan, sejarah merupakan perjalanan panjang yang tidak dapat dipisahkan, meliputi keadaan, waktu, peristiwa, momentum dan sebagainya.

Dalam rangka menghidupkan sejarah eksistensi sejarah tidak boleh terdistorsi oleh rentang dimensi waktu. Subjek dan objek sejarah memiliki standar otentik yang wajib valid, utuh dan tidak buram.

“Pemahaman tersebut pada masa kini, khususnya era milenial, mengalami pergeseran nilai. Padahal ini adalah pondasi intelektual yang wajib dipertahankan sebagai wujud tanggung jawab atas keberadaan bangsa dan Negara, yang patut dipelihara dan dipanggul oleh generasi masa kini,” tuturnya.

Pemerintah melihat kondisi ini sebagai persoalan bangsa, kepekaan dan kebanggaan atas sejarah panjang keberlangsungan Negara, mencakup filosofi, nilai budaya, etika, subjek sejarah antara lain kerajaan, kaum adat, pemuka agama, pahlawan dan lain sebagainya, objek sejarah seperti situs peninggalan, peradaban nusantara, peristiwa pra dan pasca kemerdekaan–tidak lagi diminati oleh sebagian besar kalangan muda masa kini.

“Bahaya laten inilah yang harus diatasi dengan melibatkan generasi muda agar doyan sejarah,” pungkasnya. (Jhon R/Michael Nababan)

Baca Juga  Rupiah Anjlok, Peran Bank Indonesia Dipertanyakan

Share this post

PinIt
scroll to top