Inilah Kronologis Penganiayaan Sipir kepada Napi Hingga Buta di Lapas Bukit Semut-Bangka

Jakarta, Demokrasi Rakyat-Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna Hamonangan Laoly diminta segera turun tangan menindaktegas bawahannya yang melakukan penganiayaan terhadap warga binaan atau nara pidana (Napi) hingga mengalami buta permanen di lembaga pemasyarakatan (lapas).

Penganiayaan yang dialami oleh Warga Binaan bernama Renhad Hutahaean oleh oknum sipir Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Bukit Semut-Sungailiat, Bangka, Bangka Belitung, nilai sangat tidak manusiawi.

Sudah masuk penjara karena dikriminalisasi, Renhad juga diperlakukan tidak manusiawi. Anehnya, hampir semua aparat sipir di Lapas Bukit Semut di Bangka Belitung, diam membisu.

Pengacara Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Tigor Esron Fernandes mengatakan, pihak Lapas malah sengaja menutup-nutupi dan membiarkan Renhad begitu saja, setelah dianiaya tanggal 23 April 2018, agar tidak tercium keluar.

Sejak hari itu, orang tua Renhad dilarang membesuk dan dihalang-halangi dengan ucapan bahwa Renhad dalam keadaan menjalankan hukuman melanggar disiplin yang disampaikan oleh petugas lapas (Sipir) terhadap orang tua Renhad ketika ingin membesuk Renhad dalam Lapas.

Namun kebusukan prilaku petugas lapas akhirnya ketahuan juga, ibarat pepatah Sepandai-pandai menyimpan barang busuk akan tercium juga. Secara tidak sengaja, pada tanggal 9 Mei 2018 Ibunya Renhad—Ernita Simanjuntak-menelpon salah seorang petugas sipir bernama YT.

Tigor Esron Fernandes atau yang akrab disapa Esron, kini mendampingi Renhad dan keluarganya dalam penanganan perkara ini di Jakarta.

Dilanjutkan Esron, dari sipir itulah orang tua Renhad mengetahui bahwa anaknya tidak dapat melihat lagi. Selama di-setrap di dalam sel,Renhad tidak mendapat pengobatan matanya sampai tanggal 17 Mei 2018.

Pada tanggal 17 Mei itulah Ibunya Renhad diperbolehkan besuk. Ernita masih terlihat mata Renhad dalam keadaan bengkak, merah dan terdapat lebam di area sekitar mata.

Pada 18 Mei 2018, Renhad baru bisa diajak berobat ke RSUD Sungailiat. Kemudian, tanggal 22 Mei 2018 dibawa melakukan kontrol ke RSU Provinsi.

Hasil dari pemeriksaan dokter di sana, syaraf mata kanan Renhad sudah tidak berfungsi sama sekali atau sudah buta total. Sementara,mata kiri masih ada darah beku karena ada pendarahan di bagian dalamnya. Dokter Novia di RSU Provinsi yang memeriksa Renhadmenyampaikan, diharapkan dalam 2-3 hari terhitung sejak tanggal 22 Mei 2018, Renhad harus segera dioperasi.

Dokter Novia juga menyampaikan, diperlukan seorang ahli retina untuk menganalisa kondisi mata kiri Renhad. Namun, di RSU Provinsi, belum ada dokter ahli retina. Jadi disarankan untuk membawa Renhad ke RS mata di Jakarta, agar bisa segera dioperasi.

Berdasarkan keterangan dari dokter Novia itulah Ibunya Renhad berusaha dan memohon kepada Kalapas Faozul Ansori agar kiranyamemberikan ijin pengobatan lanjut bagi anaknya.

“Tapi tidak membuahkan hasil. Malah para sipir di lapas mengancam, jika Ibunya Renhad melaporkan perkara ini keluar dari lapas makaanaknya si Renhad akan dibuang ke Nusa Kambangan. Dan semua hak-hak Renhad untuk memperoleh remisi akan dicabut,” tutur Esron.

Karena tidak membuahkan hasil, Ibunya Renhad melaporkan hal tersebut kepada Pengacara kondang Hotman Paris pada tanggal 3 Juni 2018.

Akhirnya, pihak Lapas Sungailiat memberikan ijin pada 11 Juni 2018 untuk berobat ke Rumah Sakit khusus mata di AINI Jakarta.

Pada tanggal 14 Juni 2018, mata kiri Renhad dioperasi di RS Mata, di Jakarta. Akan tetapi, dikarenakan sudah terlalu lama adanya pembiaran sejak pemukulan terhadap dirinya, yakni dari mulai 23 April hingga 14 Juni 2018, terhitung selama 45 hari tidak dijamah. Dokter di RS Mata Jakarta mengatakan bahwa syaraf mata sudah kering, retina mata sudah amblas, adanya sobekan di macula mata, sehingga mata kiri Renhad tidak berfungsi lagi.

“Dan semua biaya sejak pemeriksaan di RS Sungailiat sampai operasi mata Renhad di RS Mata Jakarta ditanggung oleh Ibunya Renhad sendiri,” ungkap Esron.

Esron menuturkan, sejak semula, Renhad dikriminalisasi dan dipaksa, dengan tuduhan melakukan tindakan mencabuli anak-anak kecil. Tuduhan tak berdasar itulah yang menjebloskan putra pertama Ibu Simanjuntak itu ke penjara.

Renhad dan keluarganya tak berdaya, tidak bisa berbuat apa-apa. Selain tidak faham permainan para oknum mafia hukum di Bangka Belitung, Renhad berupaya menjalani hukuman yang tidak dilakukannya itu dengan berupaya mengampuni orang-orang yang mengkriminalisasinya itu.

“Jadi, sejak semula, sudah ada dugaan kuat permainan oknum mafia hukum terhadap Renhad. Kasus pertama, yang menjebloskan Renhad ke penjara pun dipaksakan dan sangat mengada-ada. Para oknum penyidik, oknum jaksa pada dua tahun tujuh bulan yang lalu. Ini harus diungkap, harus diusut tuntas,” tutur Tigor Esron Fernandes, ketika menyambangi Kantor Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly, di Kuningan, Jakarta Selatan.

Sudah dua tahun tujuh bulan Renhad menjalani hukuman sebagai warga binaan di Lapas Klas II B Bukit Semut Sungailiat, Bangka itu, eh malah kembali dikriminalisasi. Dia dipukuli, dianiaya berat, babak belur dan dibiarkan, tidak ijinkan diobati, hingga menyebabkan kedua bola matanya mengalami buta permanen.

Hampir putus asa, Renhad yang sudah yatim itu berupaya mencari cara agar semua tuduhan kejahatan yang ditimpakan kepadanya diusut tuntas. Ibu Renhad terus menerus mendatangi Lapas Klas II Bukit Semut Sungailiat.

Perempuan yang berprofesi sebagai guru di Sekolah Dasar di Sungailiat itu tidak kuat melihat dan mengetahui penderitaan yang dituduhkan kepada putra pertamanya itu. Bahkan ibunya Renhad pernah pingsan di depan banyak orang saat datang menjeguk anaknya ke Lapas.

“Malah, Renhad diintimidasi oleh petugas Lapas supaya tidak memberitahukan keadaan yang sebenarnya kepada orang-orang. Juga diancam, akan menghabisi Renhad, bila kondisi itu dilaporkan pihak keluarga ke lembaga pengawasan mereka, termasuk tidak mencabuti aduanya di kepolisian daerah Bangka belitung” ungkap Esron.

Selain ke Menteri Hukum dan HAM Yasonna Hamonangan Laoly, Esron juga telah mempersiapkan surat dan laporan mengenai kondisi dan persoalan Renhad itu untuk disampaikan ke Dirjen Pemasyaratan Kementerian Hukum dan HAM (Dirjen PAS) Ibu Sri Puguh Budi Utami.

Kriminalisasi dan penganiayaan terhadap putra pertamanya dilakukan di dalam Lapas. Oleh sipir dan juga Kepala Lapas. Penganiayaan berat yang dialami Renhad, hingga kedua bola matanya buta, membuat Ernita kehilangan kepercayaan kepada aparat penegak hukum.

“Masih adakah yang bisa dipercaya? Masih adakah yang mau memberikan keadilan kepada kami, jika masih tegakkan keadilan dan berikan hukuman yang seberat-beratnya pada pelaku, apalagi dia (pelaku) selaku pejabat yang diberikan kepercayaan oleh Negara (PNS) untuk memberi contoh dan berprilaku baik serta pelayanan terhadap masyarakat, malah berprilaku yang tak berhatinurani (sadis)?” tutur Ernita terisak tangis memikirkan nasib anaknya yang masa depannya suram dan hancur.

Sudah semua upaya yang bisa dilakukannya, tak jua ada keadilan. Bahkan, dia berupaya menghubungi pengacara kondang Hotman Paris Hutapea, untuk bersama-sama memperjuangkan keadilan bagi Renhad. Agar ada titik terang.

“Jika Bapak Menteri di Jakarta mau, keadilan itu bisa terjadi. Tolong sampaikan juga ke Bapak Jokowi, apakah masih ada keadilan? Saya mau datang ke Jakarta, mau sampaikan langsung ke Pak Jokowi, saya mau buka semua ketidakadilan ini,” tutur Ernita semakin terisak.

Dia saja mengikuti persidangan atas laporannya mengenai kondisi anaknya yang dianiaya berat, hingga mengalami kebutaan permanen.

Kehadirannya dalam mengikuti agenda persidangan sampai kelima kalinya, saksi-saksi yang dihadirkan berdasarkan BAP penyidik yang tercantum dalam dakwaan Jaksa, masing-masing 4 orang dari petugas sipir dengan posisi jabatan di bawah jabatan Sudarman alias Damang (atasan para saksi), kemudian 2 orang dari napi yang masih aktif menjalankan hukuman pidananya.

“Kesemua keterangan yang diberikan para saksi tersebut dalam persidangan tidak satu kalimatpun yang menyatakan bahwa atasannya melakukan penganiayaan berat,” ungkap Ernita.

Kuasa Hukum saksi korban dan saksi pelapor (Renhad) Bujang Musa ketika dihubungi via telepon mengatakan, para saksi yang dihadirkan dinilai tidak berkompeten untuk membuka perkara tindak pidana ini menjadi terang benderang.

Menurut Musa, para saksi tersebut berasal dari satu lembaga atau institusi yang tentunya masih tersimpan menutup-nutupi kesalahan dalam lembaganya. Apalagi 2 orang saksi dari 3 orang saksi sebelumnya (Sipir) merupakan masih aktif sebagai warga binaan (napi). “Sudah barang tentu masih dalam tekanan,” ujarnya.

Oleh karena itu, lanjut Musa, selaku kuasa hukum, sangat menyayangkan hal itu. “Saya sangat menyayangkan, seharusnya ditingkat penyidikan sudah tahu apakah saksi-saksi ini tepat atau tidak sebagai saksi sebagaimana diatur dalam KUHAP, dan kami masih yakin dan berharap Majelis Hakim dan Jaksa Penuntut Umum yang memeriksa perkara ini akan menuntut dan memutuskan putusan yang seadil-adilnya,” jelas Musa.

Perkara ini, kata dia, berdasarkan fakta-fakta yang terungkap, baik keterangan korban maupun fakta hasil Visum et Repertum, dakwaan terhadap terdakwa bukan tindak pidana penganiayaan biasa, akan tetapi ada perbuatan-perbuatan terdakwa yang merupakan tindak pidana penganiayaan berat sebagai mana tercantum dalam pasal 354 ayat 1 KUHP Junto pasal 90 KUHP.

Sementara itu, Ernita bersikeras ingin menyampaikan dan akan membeberkan langsung kondisi dan fakta yang dia ketahui kepada Menteri Hukum dan HAM Yasonna Hamonangan Laoly dan juga kepada Presiden Joko Widodo.

“Saya juga perlu bicara di televisi. Akan saya buka semua kebohongan-kebohongan mereka. Tolong Pak Menteri dan Pak Jokowi, saya rela akan datang ke Jakarta, saya akan buka semua ketidakadilan ini,” tuturnya.

Sejak dipenjara, kini Renhad sudah menjalani hukuman 2 tahun 7 bulan. Renhad dikenal berperilaku baik. Tidak ada yang aneh-aneh. Bahkan, dari pengakuan teman satu selnya, Renhad itu selalu mengingatkan agar tidak bertindak jahat.

Di dalam penjara, Renhad dipercaya sebagai kepala ruangan dan mengajar paket dari Januari sampai Maret 2018. Dia juga dipercaya menjadi instruktur senam, petugas perpustakaan dan kerohanian.

Nah, pada saat beberapa waktu lalu, kamar mandi atau water closed (WC) di dalam penjara rusak. Oleh sipir, para napi dimintai uang, alasannya untuk memperbaiki WC yang rusak itu.

Sipir bernama Sudarman alias Damang pun meminta Renhad mengumpulkan uang sebesar Rp 300 ribu rupiah per kamar dari para napi lainnya.

Nah, pada saat Damang meminta uang yang dikumpulkan itu, entah bagaimana, sebanyak Rp 50 ribu hilang. Renhad pun dituduh menyelipkan uang tersebut ke dalam tas milik Cholik-teman satu selnya, sehingga Cholik mendapat hukuman.

Menurut pengakuan teman satu sel Renhad, Renhad yang meyelipkan uang tersebut ke kantong Cholik dan dia meminta maaf kepada Sipir Damang.

Tetapi Sudarman alias Damang memukuli Renhad sebanyak 6 kali di area kepala dan mata. Hal ini pun disaksikan oleh 3 orang teman sesama sipir Lapas Sungaliat. Pemukulan itu mengakibatkan cacat seumur hidup.

Ernita yang datang berkunjung pun tidak dijinkan bertemu anaknya. Selama 24 hari, Renhad dimasukkan ke sel tikus. Tidak diobati. “Sipir mengancam Renhad. Dia dipaksa mengaku terjatuh kalau ada yang menanyakan mengapa dia luka-luka dan babak belur,” ungkap Renhad.

Ernita marah dan meminta supaya anaknya diobati. Namun tidak diberikan ijin berobat. Nah, lewat 24 hari, Renhad sudah tidak dapat berjalan kalau tidak dipapah. Dia pun diijinkan periksa kesehatan dan kondisi matanya.

“Kami meminta itu sebagai penganiayaan berat, tetapi Jaksa malah membuatnya Pasal 351, penganiayaan ringan. Ini tidak betul lagi persidangan begini,” ujar Ernita, seraya menyampaikan dirinya tidak kuat bercerita, “Malu nanti saya, apakah saya harus pingsan terus,” isaknya.

Dari pengakuan Renhad kepada Ibunya, dia membantah memakan uang Rp 50 ribu itu. Dirinya juga tidak pernah melakukan perbuatan-perbuatan yang dituduhkan kepada dirinya.

“Di dalam satu sel kami itu ada 25 orang. Semua lelaki, berusia antara 20 tahunan ke atas. Mereka bisa ditanya satu per satu seperti apa saya,” ujar Renhad.

Ernita pun meminta agar Renhad dilepaskan dan dirawat di rumahnya saja. Namun tidak diperbolehkan oleh Kalapas. Ernita tidak mau anaknya dicelakai lagi. Selain sudah tidak normal secara fisik—karena kedua bola matanya sudah tidak bisa melihat, buta–Renhad juga sudah tidak bisa mandiri mengurus dirinya di dalam lapas.

“Dan yang saya paling khawatirkan sekarang mengenai kondisi Renhad, jangan sampai di dalam makanannya ditaruh racun tikus atau apalah namanya. Sehingga dia mati. Sebab, Renhad yang sudah menjadi korban dia bersaksi biarlah Tuhan pakai saya untuk membongkar hal ini semua kebobrokan sipir di lapas Sungailiat Bangka,” ujarnya.

Ernita sangat mewanti-wanti, ada ancaman yang dilontarkan pihak Lapas kepada dirinya dan Renhad. “Kami mau ini dibongkar. Berikan keadilan. Kepada siapa lagi kami akan meminta pertolongan? Pak Jokowi, tolong berikan keadilan kepada kami,” ujarnya. (Jhon R

Baca Juga  Tenaga Kerja Lokal Tak Dilibatkan, Masyarakat Aceh Akan Melawan KEK Arun

Share this post

PinIt
scroll to top