Negara harus segera Membenahi Sistem Keselamatan Transportasi Air di Danau Toba

Jakarta, Demokrasi Rakyat-Masyarakat dari Kawasan Danau Toba (KDT) meminta Negara segera melakukan pembenahan menyeluruh terhadap sistem keselamatan transportasi air di Danau Toba.

Masyarakat yang tergabung dalam Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT), mengingatkan Negara ini tidak absen melulu dalam menjamin keselamatan transportasi air, seperti di Danau Toba.

Ketua Umum Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) Maruap Siahaan mengatakan, peristiwa tenggelamnya Kapal Motor Sinar Bangun (KM Sinar Bangun) di Danau Toba pada 18 Juni 2018 lalu, menjadi pelajaran sangat amat berharga bagi Negara ini.

Peristiwa itu membuktikan sekaligus memberikan pesan kepada masyarakat luas, betapa tidak tertatanya atau kacau-balau pengelolaan pelayaran penyeberangan dan wisata di Kawasan Danau Toba.

“Terutama aspek keselamatan yang sama sekali diabaikan,” ujar Maruap Siahaan, di Jakarta, Kamis (29/11/2018).

Kecelakaan fatal yang bertepatan dengan suasana libur Idul Fitri tersebut telah merenggut nyawa 3 orang korban meninggal dunia, 164 dinyatakan hilang (beberapa ditemukan melalui rekaman video robotik, namun belum dievakuasi), dan 21 (dua puluh satu) orang selamat dari perjalanan nahas tersebut.

Peristiwa tenggelamnya KM Sinar Bangun itu bukanlah yang pertama. Beberapa peristiwa telah terjadi dan lolos dari pemantauan publik, karena belum ada teknologi media sosial yang bisa mempublikasikan peristiwa-peristiwa terdahulu.

“Serta, masih minimnya pengawasan dari masyarakat waktu itu,” ujar Maruap.

Beberapa peristiwa kecelakaan kapal yang pernah terjadi di Perairan Danau Toba diantaranya, di tahun 1955, dua kapal motor saling bertabrakan di tengah Danau Toba dengan korban meninggal 55 orang.

Pada tahun 1986, kapal motor tenggelam dengan korban meninggal 4 orang, sebagian besar penumpang adalah pelajar. Tahun 1987, kapal motor tenggelam di tengah danau dengan korban meninggal 23 orang.

Baca Juga  Pemkab Palas Diminta Tindak Tegas Distributor Gas LPG 3 Kg Nakal

Kemudian, tahun 1997, Kapal Motor Peldatari tenggelam bersama dengan lebih dari 70 orang penumpang. Pada tahun 2013, terjadi tabrakan di tengah danau antara Kapal Motor Yola dengan Kapal Ferry Tao Toba dengan 4 orang dinyatakan hilang.

Tahun 2016, terjadi tabrakan Kapal Motor di tengah danau dengan korban 2 orang terluka parah. Pada tanggal 18 Juni 2018, Kapal Motor Sinar Bangun tenggelam di Danau Toba antara Pelabuhan Simanindo ke Pelabuhan Tigaras.

Kemudian, mogoknya Kapal Motor beberapa saat meninggalkan Pelabuhan Nainggolan menuju Pelabuhan Muara dengan 1 orang korban meninggal dunia.

Menurut Maruap Siahaan, kecelakaan transportasi air terus saja terjadi selama berpuluh tahun di Danau Toba dengan pola yang sama, yaitu standar keselamatan dan Panduan tidak diterapkan atau diabaikan oleh para pengelola. Tanggung jawab atas implementasi sistem transportasi air di sana pun terabaikan.

Keadaan serupa sesungguhnya terjadi di berbagai daerah di Indonesia yang notabene memiliki 17.508 pulau yang dipisahkan oleh perairan.

“Kapal rakyat, merupakan kendaraan vital bagi masyarakat Danau Toba termasuk masyarakat lainnya di Indonesia untuk menghubungkan antardaratan,” ujarnya.

Selain masyarakat Danau Toba, kapal juga merupakan bentuk perjalanan yang vital bagi banyak turis yang mengunjungi Danau Toba–sebagai destinasi pariwisata prioritas nasional-termasuk pulau-pulau lain di Indonesia.

“Tragedi di Danau Toba maupun daerah lain di Indonesia dapat berpotensi negatif pada pariwisata dan jumlah pengunjung ke masa depan apabila tidak segera dibenahi,” ujar Maruap.

Oleh karena itu, lanjut dia, sesuai dengan sembilan agenda prioritas atau Nawacita, maka Negara harus hadir untuk melindungi segenap bangsa.

“Negara harus memberikan rasa aman pada seluruh warga negara. Dan seharusnya Pemerintah tidak abesendengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya, khususnya dalam melakukan perbaikan kinerja maupun kualitas layanan publik,” ujar Maruap.

Baca Juga  PKP Berdikari Sosialisasi Kota Bebas Sampah Plastik

Dengan hadirnya kembali negara dan tidak absennya pemerintah, maka selaras dengan visi Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) yaitu Danau Toba menjadi Kota Berkat Di Atas Bukit (The Lake Toba Area Will Become The Paradise City On The Hill).

Tidak hanya mendorong Pemerintah untuk melakukan perbaikan, tetapi juga memberikan masukan sebagai bahan pertimbangan dalam mengimplementasikan dan menegakkan peraturan maupun standar Keselamatan Transportasi Air di Danau Toba secara khusus, dan di Indonesia secara umum.

Saat ini, pembenahan itu pun masih minim. Pasca tenggelamnya Kapal Motor Sinar Bangun terungkap bahwa dalam tiga tahun terakhir manajemen pelabuhan atau dermaga dan sistem keselamatan transportasi air, maupun sistem keamanan dan keselamatan pengunjung di daerah wisata Kawasan Danau Toba sangatlah memprihatinkan.

Secara kasat mata bisa dilihat, misalnya pembayaran tiket dalam perjalanan menggunakan kapal motor dilakukan di atas kapal, tidak ada terlihat petugas dari departemen atau dinas terkait di pelabuhan, menaikkan dan menurunkan penumpang maupun kendaraan dilakukan orang yang tidak memiliki seragam kru kapal.

Juga, tidak adanya penanda jalur evakuasi di atas kapal, tidak tersedia demarkasi penumpang maupun petugas dipelabuhan yang menggambarkan standarisasi perencanaan dermaga/jetty penyeberangan.

Minimnya standar dan fasilitas keamanan di atas kapal, ketiadaan kontrol terhadap penumpang di atas kapal oleh petugas baik dalam hal menjaga kebersihan maupun berperilaku, tidak ada kontrol dari otoritas pelabuhan perihal jumlah muatan kapal dan yang memberikan ijin berlayar, sertifikasi kompetensi kapten dan awak kapal masih terabaikan, dan berbagai permasalahan lainnya.

Saat ini, lanjut Maruap Siahaan, pemerintah menjadikan Danau Toba sebagai destinasi pariwisata sebagai prioritas nasional.

Oleh karena itu, sebaiknya didahului dengan memberdayakan masyarakat di sekitar Danau Toba, termasuk memberdayakan kapal-kapal rakyat agar memenuhi standar keamanan dan keselamatan.

Baca Juga  Gito Pardede : Sumatera Utara Darurat Korupsi

“Dengan adanya kesiapan masyarakat menyambut wisatawan, maka akan mempermudah Pemerintah mempromosikan Kawasan Danau Toba,” ujarnya.

Masih dalam kerangka pembenahan menyeluruh Sistem Keselamatan Transportasi Air di Danau Toba, Maruap Siahaan menyarankan, pemerintah perlu membuat standarisasi untuk semua kapal angkut penumpang yang mengacu pada standar keselamatan secara nasional, yang meliputi disain kapal, konstruksi, peralatan dan perlengkapan, pengoperasian dan kompetensi awak (kru) kapal.

Sekretaris Umum YPDT, Andaru Satnyoto menambahkan, ada sederet pokok-pokok pikiran yang disampaikan kepada pemerintah, dalam rangka pembenahan menyeluruh sistem keselamatan transportasi air.

“Pada prinsipnya Yayasan Pencinta Danau Toba siap bekerjasama dengan Pemerintah untuk mewujudkan pelayanan publik yang mumpuni di Kawasan Danau Toba yang telah ditetapkan sebagai destinasi pariwisata prioritas,” ujar Andaru Satnyoto. (Jhon R)

Share this post

PinIt
scroll to top