Selewengkan Fasilitas Kredit Bank Mandiri, Manager Regional BCA Diperiksa Kejaksaan Agung

Selewengkan Fasilitas Kredit Bank Mandiri, Manager Regional BCA Diperiksa Kejaksaan Agung (Foto: Ilustrasi)

Jakarta, Demokrasi Rakyat-Kejaksaan Agung memeriksa Manager Regional PT Bank Central Asia (BCA), Rafid. Penyidik memanggil dan memeriksa Rafid terkait, dugaan korupsi penyelewengan fasilitas kredit PT Bank Mandiri (Persero) Commercial Center Bandung I kepada PT Tirta Amarta Bottling Company (TABC). Aksi mereka ini telah menimbulkan dugaan kerugian negara hingga Rp 1,83 triliun.

Kepala Pusat Penerangan dan Hukum Kejaksaan Agung (Kapuspenkum) Mukri mengungkapkan, Rafid diduga melakukan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) bersama tersangka Rony Tedy.

“Jadi Rafid diperiksa masih sebagai saksi untuk kasus dugaan TPPU oleh tersangka Rony Tedy alias RT, Direktur PT TABC,” ujar Mukri kepada wartawan di Jakarta, Rabu (05/12/2018).

Murkri menegaskan, penyidik masih melakukan pengembangan dengan kembali memanggil enam orang saksi, termasuk Rafid.

“Kita terus dalami dengan telah memeriksa saksi sebanyak 6 (enam) orang,” ujarnya.

Diketahui, tujuh orang terdakwa yang terlibat dalam kasus penyelewengan kredit oleh PT TABC sedang sedang menjalani persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Bandung.

Ketujuh terdakwa diantaranya, Direktur PT TABC Rony Tedy, Direktur Head Officer Juventius. Sementara lima orang lain berasal dari Mandiri Commercial Banking Center Bandung I yakni Commercial Banking Manager Surya Baruna Semengguk, Senior Credit Risk Manager Teguh Kartika Wibowo, Relationship Manager Frans Eduard Zandstra, Commercial Bankig Head Totok Sugiharto dan Wholesale Credit Head Poerwitono Poedji Wahjono.

Ketujuh terdakwa didakwa dengan pasal 2 ayat (1) Junto pasal 18 Undang-Undang (UU) 31 tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi sebagaimana diubah menjadi UU 20/2001 Jo. pasal 55 ayat (1) KUHP.

Dengan dakwaan ini, ketujuh terdakwa bisa dihukum dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun, dan denda paling sedikit Rp 200 juta, dan paling banyak Rp 1 miliar.

Kasus tersebut bermula ketika PT Bank Mandiri (Persero) memberikan fasilitas kredit modal kerja (KMK) pada 19 Desember 2008. Kemudian sejalan dengan pertumbuhan perusahaan, diberikan beberapa fasilitas tambahan dan mendapat perpanjangan fasilitas KMK senilai Rp 880 miliar, Letter of Credit (LC) senilai Rp 40 miliar impor dan kredit investasi (KI) senilai Rp 250 miliar pada 15 April 2015.

Diperjalanan penyelewengan terjadi sebab dalam mengajukan perpanjangan kredit di Bank Mandiri Commercial Banking Center Bandung I, pada 15 Juni 2015 Tirta Amarta diduga menggelembungkan nilai aset.(Jhon R)

Baca Juga  Dukung Hukuman Mati Bagi Koruptor, PKL & Rakyat Kecil Siap Long March ke KPK

Share this post

PinIt
scroll to top