BMKG Wanti-Wanti Terjadinya Bencana di Sejumlah Wilayah Indonesia

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)

Jakarta, Demokrasi Rakyat-Bulan Desember selalu identik dengan tingginya curah hujan di hamper seluruh wilayah Indonesia. Akhir tahun 2018 ini, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kembali mewanti-wanti adanya berbagai bencana lantaran curah hujan yang sangat tinggi.

Kepala Sub Bidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Siswanto mengatakan, pihaknya melalui Deputi Bidang Klimatologi BMKG telah meminta daerah-daerah yang diprediksi berpotensi curah hujan tinggi, untuk mewaspadai potensi banjir.

Sejumlah daerah rawan banjir antara lain di sebagian besar Sumatera, Banten, sebagian Jawa Barat, sebagian Jawa Tengah, sebagian Kalimantan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan sebagian kecil Papua.

“Peta potensi banjir 10-harian yang lebih detail kini sudah disiapkan BMKG bekerja sama dengan Badan Informasi Geospasial (BIG) dan Dirjen Sumber Daya Air (DJSDA-PU),” tutur Siswanto, di Jakarta, Kamis (13/12/2018).

Siswanto mengibaratkan, setiap bulan Desember, musim hujan datang, bencana mulai berbilang.

“Penguatan musim hujan identik dengan peningkatan kejadian bencana hidrometeorologi di sebagian besar wilayah Indonesia,” ujarnya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan, selama pertengahan Desember 2018 telah terjadi rentetan bencana antara lain bencana longsor, kejadian puting beliung, dan banjir di beberapa lokasi. Bulan November lalu, tercatat 72 kejadian banjir, 74 bencana longsor, dan 77 kejadian puting beliung.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat pada bulan November lalu curah hujan tertinggi adalah 400 mm yang turun dalam sehari di Karang Nunggal, Tasikmalaya.

Demikian juga akumulasi tertinggi curah hujan bulan November di wilayah tersebut yaitu mencapai 1325 mm. Berdasarkan pemutakhiran data BMKG tanggal 13 Desember 2018, sebanyak 62% wilayah Indonesia dinyatakan sudah memasuki musim hujan.

“Itu relevan dengan prakiraan musim hujan yang sudah diinformasikan sebelumnya,” ujar Siswanto.

Selanjutnya, Supervisor yang bertugas pada Sistim Peringatan Dini Iklim atau Climate Early Warning System (CEWS) BMKG, Kadarsah menjelaskan, analisis hujan akumulasi dasarian menunjukkan bahwa beberapa wilayah mendapatkan curah hujan tinggi (> 150 mm/dasarian) yang terjadi di Sumbar, Riau bagian Tengah, Jambi bagian barat, Muko-muko, Pekanbaru, Kampar, Kerinci, Belitung, Cilacap, Semarang, Kapuas Hulu, Samarinda, Flores, Sorong, Nabire dan Mimika.

Sementara itu untuk curah hujan kategori rendah (0 – 50 mm/dasarian) masih dialami Sumut bagian tengah, pesisir utara Jabar, DKI, Situbondo, Banyuwangi, sebagian besar Sulteng, Bombana, Kolaka, Ambon, Kairatu, dan Merauke.

“Beberapa daerah diprediksikan akan mendapatkan akumulasi curah hujan tinggi hingga sangat tinggi,” ujar Kadarsah.

Prospek curah hujan 10 hari ke depan, lanjut Kadarsah, beberapa daerah diprediksikan mendapatkan akumulasi curah hujan sangat tinggi (>150 mm/dasarian) yaitu bagian barat Sumatera-Pesisir Barat mulai Aceh, Sumut, Sumbar, Jambi bagian barat, Sumsel bagian barat sampai Bengkulu, Bangka bagian utara, Belitung, Kalimantan Barat bagian barat, Sulawesi Selatan bagian selatan, sebagian Papua sekitar Pegunungan Jayawijaya.

Angin Baratan Monsun Asia Mulai Dominan

Kepala Sub Bidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Siswanto menjelaskan, hingga akhir Desember 2018, dominasi sirkulasi monsun di Indonesia yaitu Angin Baratan.

Sedangkan, daerah lainnya didominasi angin timuran mulai dari Sumatera bag.selatan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Di selatan ekuator didominasi angin dari selatan. Pola siklonik terbentuk di perairan Sumatera bagian Barat dan perairan bagian barat Kalimantan Barat.

Wilayah pertemuan massa udara terdapat di perairan Kalimantan bagian Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, dan bagian utara Papua yang berpotensi untuk pembentukan awan-awan hujan.

“Umumnya daerah bagian barat Indonesia akan mendapatkan pnambahan supply uap air karena aktifnya fase basah gelombang atmosfer MJO, sehingga awan-awan hujan lebih mudah terjadi,” ujar Siswanto.

Terkait fenomena global El Nino, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyatakan bahwa kondisi El Nino telah terpenuhi dari sisi menghangatnya lautan Pasifik, namun interaksi antara lautan dengan atmosfer belum terjadi diantara keduanya. Pergerakan atmosfer belum menunjukkan situasi yang biasa terjadi pada kondisi El Nino.

Penghangatan suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur telah mengindikasikan El Nino Lemah yaitu >0,5 – 1,0.  Sementara itu Samudera Hindia pada bulan akhir November 2018 menunjukkan kondisi dipole mode positif.

Sementara Perairan Indonesia dalam kondisi Normal, dengan pendinginan atau penghangatan suhu permukaan laut antara 0.5 s/d 1°C dari rata-rata normalnya.

Suhu muka laut mendingin terjadi disekitar selatan Bali sampai Nusa Tenggara Barat, dan Selat Makasar. Wilayah dengan suhu permukaan laut lebih hangat terdapat di perairan barat sekitar Sumatera bagian utara, Laut Timor, Laut Seram dan Laut Maluku. (Jhon R)

Baca Juga  Di Demo Mahasiswa Manggarai, KLHK Akan Libatkan Masyarakat Di Tim Terpadu Kawasan Taman Nasional Komodo

Share this post

PinIt
scroll to top