Nasionalisme Harus Berdiri di Atas HAM

Refleksi Tutup Tahun Pemuda "Nasionalisme Dalam Arus Kosmopolitanisme", Hotel Grand Alia, Cikini, Jakarta, Senin (31/12/2018)

Jakarta, Demokrasi Rakyat-Para pemuda menilai pemerintahan Indonesia hari ini tidak mengerti asal-muasal nasionalisme. Sehingga, dalam berbagai persoalan yang muncul, Negara mengkampanyekan Nasionalisme tanpa roh kepemilikan nasionalisme Indonesia sesungguhnya.

Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Juventus Prima Yoris Kago mengatakan, sikap pemerintah yang menunjukkan ketidakpahaman akan semangat asali nasionalisme Indonesia, berakibat buruk bagi kondisi kebangsaan Indonesia hari ini.

“Di satu sisi pemerintah getol menyuarakan nasionalisme, namun di sini lain tak sedikit korban berjatuhan di tangan negara atas nama nasionalisme berslogan NKRI Harga Mati,” ujar Juventus Prima Yoris Kago, saat menggelar Refleksi Tutup Tahun Pemuda, bertema Nasionalisme Dalam Arus Kosmopolitanisme, di Hotel Grand Alia, Cikini, Jakarta Pusat, Senin (31/12/2018).

Dalam kegiatan refleksi ini, dibahas tentang nasionalisme dalam gelombang kosmopolitanisme. Refleksi pemuda ini dihadiri Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora Dr H M Asrorun Ni’am Sholeh sebagai pembicara utama, Ketua DPP Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Robaytullah Kusuma Jaya, Ketua Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI) Korneles Jacob Galanjinjinay, Ketua PP KMHDI I Kadek Andre Nuaba, Ketua Umum Hikmahbudhi Ari Sutrisno dan Ketua PP PMKRI Juventus Prima Yoris Kago.

Menurut Juventus, nasionalisme harus menjadi way of life bangsa Indonesia. “Nasionalisme harus menjadi gaya hidup, bukan jargon, gaya hidup yang menghargai kemanusiaan, harus berdiri di atas HAM,” katanya.

Menjadi nasionalis dalam perspektif Pancasilais, menurut dia, adalah menjadi nasionalis dengan cita rasa Indonesia, dengan pertama-tama harus mengedepankan aspek Hak Asasi Manusia (HAM).

“Internasionalismenya kita adalah kemanusiaan universal. Membangun nasionalisme sejati ala Indonesia tak bisa lepas dari semangat mencintai manusia dan kemanusiaan,” ujar Juventus.

Sementara itu, Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora Dr H M Asrorun Ni’am Sholeh menyebut pemuda harus menjadi pemilik masa silam dan masa depan.

“Hari ini kita berada dalam revolusi Industri 4.0 yang membuat kita terbuka terhadap masyarakat internasional. Pemuda harus menjadi inisiator yang revolusioner terhadap perubahan zaman,” ujarnya.

Ia juga mengimbau kepada para mahasiswa yang hadir agar membuka diri terhadap perubahan sembari tetap berpegang pada prinsip-prinsip nilai yang khas Indonesia.

“Berorganisasi tapi harus berani melampaui sekat-sekat primordial, keluar dari batas-batas, untuk menjumpai yang lain dalam panggung global,” tandasnya. (Jhon R)

Baca Juga  Masih Minim Peran dan Partisipasi Politik; Perempuan Indonesia Jangan Berhenti Berbuat

Share this post

PinIt
scroll to top