Aktivis Rumah Tani Indonesia : Pembungkaman Aktivis Terjadi

Ratusan Perternak dan Pertanian Kawal DIskriminasi salah satu penggagas Petisi Rangunan (Foto: Humas Pataka)

Jakarta, Demokrasi Rakyat- Pertemuan di rumah makan bebek dower Cilandak pada 22 November 2018 itu adalah perjumpaan para aktivis tani dan ternak yang resah dengan situasi pertanian Indonesia.

Sekretaris Umum Rumah Tani Indonesia (RTI) Muhammad Irvan Mahmud Asia menilai pertemuan itu biasa saja, para aktivis kumpul dan sampai pada satu kesepahaman bahwa ada masalah dalam pengelolaan pertanian, dan hasil diskusi itu berupa petisi.

Irvan yang juga hadir dalam acara tersebut dan menjadi sala satu penandatangan Petisi Ragunan, menilai apa yang disampaikan dalam petisi tersebut garis besarnya mengkritisi kebijakan Kementerian Pertanian.

“Itu pertemuan berisi diskusi, kajian dan mengkritisi kebijakan Pemerintah di sektor pertanian. Untuk menyuarakannya, kami menyepakati adanya Petisi Ragunan. Dan disuarakan ke publik. Tak ada yang aneh-aneh. Namanya aktivis ya diskusi, kajian, meneliti, publikasi, itu yang bisa kita lakukan,” tutur Irvan, Rabu (08/01/2019).

Anehnya, kok ada gugatan dari Kementerian Pertanian kepada salah seorang aktivis yang meneken Petisi itu. Menurut Irvan, watak kekuasaan yang terjadi seperti ini adalah bibit-bibit otoritarianisme dan jika tidak dilawan bisa seperti watak kekuasaan otoriter Orde Baru.

“Diskusi kok dilaporkan dan digugat. Kemerdekaan berkumpul dan berekspresi kok dikriminalisasi. Langkah Kementan itu adalah watak kekuasaan yang tidak mau mendengar kritik loh,” ujarnya. (Jhon R)

Baca Juga  Gelar Upacara Bendera di Lubang Tambang

Share this post

PinIt
scroll to top