Putusan Hakim Praperadilan Masuk Angin, Pensiunan TNI Angkatan Darat Protes

Jakarta, Demokrasi Rakyat-Hakim Pengawas di Mahkamah Agung (MA) bersama Komisi Yudisial (KY) dan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Pol Tito Karvanian, diminta segera menindak tegas hakim dan penyidik kepolisian yang diduga main mata dalam sidang-sidang Praperadilan.

Purnawirawan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) Victor Sulaiman Siregar mengungkapkan, dalam sejumlah proses persidangan praperadilan yang diikutinya, banyak oknum penyidik dan oknum hakim yang bermain mata. Akhirnya, warga masyarakat pencari keadilan pun terus teraniaya, tidak memperoleh keadilan.

Pria usia lanjut yang menjadi advokat ini menantang setiap penegak hukum membongkar dan meluruskan proses-proses peradilan yang malah jauh dari nilai-nilai keadilan.

“Saya akan melaporkan penyidik dan hakim yang menggelar praperadilan yang penuh skenario busuk yang mempermainkan proses hokum. Kiranya Kapolri, MA dan KY bisa segera menindaklanjutinya,” tutur Victor Sulaiman Siregar, di Jakarta, Rabu (30/01/2019).

Advokat senior yang berusia 76 tahunan ini mengungkapkan, dirinya sendiri mengalami kriminalisasi dan dugaan persekongkolan oleh oknum-oknum penyidik kepolisian yang berkolaborasi dengan oknum Hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), dalam proses praperadilan.

Victor yang pensiun dari TNI AD dengan pangkat terakhir sebagai Mayor itu menjelaskan, dirinya ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Polda Metrojaya, atas sebuah perkara yang tidak dilakukannya.

Dirinya dijadikan tersangka oleh penyidik Polda Metrojaya atas laporan Kombes Pol Dr Syafi’in, yang pernah membuat laporan di Polres Jakarta Utara dengan nomor LP/607/K/III/2013/PMJ/Resju bertanggal 15 Maret 2013.

“Saya dijadikan tersangka oleh penyidik Polda Metrojaya. Padahal, perkara ini sudah pernah dipraperadilankan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Dan praperadilan yang diajukan Kombes Pol Syafi’in dan kawan-kawannya itu ditolak hakim di PN Jakarta Utara,” ungkap Victor Sulaiman Siregar.

Baca Juga  Minta Usut Korupsi Bupati, Ratusan Warga Tapteng Sambangi Gedung KPK

Perlu ditegaskan, lanjut dia, sebelumnya berdasarkan Putusan Praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut), sudah final. “Artinya, putusan Praperadilan PN Jakut waktu itu sudah Nebis in Idem,” ujar Victor.

Dia menyebut, putusan praperadilan dari Pengadilan Negeri Jakarta Utara No 17/Pra.Per/2015/PN.Jkt.Ut tanggal 22 September 2015 telah membuat persoalan ini terang benderang dan jelas.

Anehnya, lanjut Victor, rupanya penyidik diduga berkomplot lagi harus mentersangkakan dirinya. Penyidik pun memasukkan lagi perkara yang sama ke Polda Metrojaya, dan di sini dirinya ditetapkan sebagai tersangka.

“Saya tidak pernah tahu bahwa perkara ini dimasukkan lagi ke Polda Metrojaya. Saya tidak pernah dipanggil, tidak pernah diperiksa, tahu-tahu saya dikirimkan surat bahwa saya sudah ditersangkakan,” ujar Victor.

Orang tua yang semasa di TNI AD ini pernah menjadi Oditur melakukan perlawanan. Dirinya pun memohonkan Praperadilan atas status tersangkanya ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel).

Semua bukti dan putusan serta keterangan-keterangan terdahulu di PN Jakarta Utara, sudah disampaikan dan sudah diterangkan. Namun, hakim tunggal yang memutus praperadilan di PN Jaksel, menolak permohonannya, sehingga Victor Sulaiman Siregar tetap sebagai tersangka oleh penyidik Polda Metrojaya.

“Saya tidak tahu niat mereka ke saya apa? Yang saya rasakan, ada upaya komplotan ini harus menjebloskan saya ke penjara, sehingga semua cara dan daya upaya mereka lakukan,” ujar Victor.

Di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Hakim Tunggal Praperadilan yang memutus permohonan gugatan Victor telah memutuskan menolak permohonannya.

Persidangan yang digelar pada Selasa, 29 Januari 2019, Pukul 15.00 WIB di Kamar 7, Ruang Sidang Anak, Sarwata SH itu, diikuti oleh Victor Sulaiman Siregar sebagai pemohon. Dia didampingi oleh isterinya yang sudah lanjut usia, Sorta Clement Manurung. Sementara, pihak penyidik Polda Metrojaya, mengirimkan tiga orang penyidik untuk mewakili termohon.

Baca Juga  Mahkamah Agung: Indonesia Sangat Kekurangan Hakim

Persidangan mengagendakan pembacaan putusan. Jadwal persidangan, sesuai surat pemanggilan siding akan dimulai Pukul 10.00 WIB. Selama 5 jam menunggu, para peserta sidang hampir kehabisan energi, akhirnya pada Pukul 15.00 WIB, Hakim Leny sebagai Hakim Tunggal memasuki ruangan.

Hakim Leny pun langsung masuk ke agenda persidangan. Dia membacakan putusan yang dibuatnya. “Menolak permohonan pemohon,” ujar Hakim Leny.

Setelah pembacaan putusan, Hakim Leny pun menutup persidangan dengan mengetuk palu sebanyak tiga kali.

Ketika hendak keluar ruang sidang, Sorta Clement Manurung yakni isteri dari Victor Sulaiman Siregar, berdiri dan berupaya mempertanyakan putusan yang diketuk oleh Hakim Leny. Terjadi sekilas keriuhan di ruang sidang. Sembari berjalan keluar ruangan, Hakim Leny menolak bertanggung jawab atas putusannya. “Saya hanya membacakan putusan saja,” ujar Hakim Leny berlalu.

Advokat Victor Sulaiman Siregar pun menyatakan akan mengambil langkah lanjut, yakni melaporkan penyidik Polda Metrojaya dan melaporkan Hakim Leny atas dugaan persekongkolan busuk yang dilakukan dalam putusan itu.

“Hakim mengesampingkan bukti-bukti yang saya ajukan. Hakim juga mengesampingkan Putusan Praperadilan yang sudah ada di Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Saya hendak melaporkan mereka ini semua, dan saya meminta mereka diperiksa dan diusut tuntas,” ujar Victor Sulaiman.

Kepala Humas Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Achmad Guntur menyampaikan, pihaknya akan mencoba menelusuri terlebih dahulu sepak terjang Hakim Leny dalam membuat putusan itu.

“Memang perkara praperadilan, hakim punya otoritas secara mandiri dalam mempertimbangkan,” ujar Achmad Guntur.

Guntur yang juga seorang hakim itu mengatakan, pihaknya tidak akan melarang siapapun pencari keadilan yang melaporkan hakimnya yang dianggap melakukan pelanggaran.

“Semua orang punya hak untuk melaporkan, hakim yang menyidangkan bertanggungjawab atas putusannya,” tutup Guntur. (Jhon R)

Baca Juga  Desak Pembebasan Meiliani, Kepolisian Diminta Habisi Persekusi Yang Terjadi Lewat Pengadilan

Share this post

PinIt
scroll to top