Tolak Kriminalisasi Akademisi, Rocky Gerung Tidak Layak Dipidanakan

Jakarta, Demokrasi Rakyat-Akademisi Rocky Gerung yang dikenal berani bicara blak-blakan dengan sudut pandang akademisi, tidak layak dilaporkan secara pidana.

Sejumlah pernyataan dan pandangan yang diutarakan pengajar di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) itu dianggap sebagai pembanding cara berpikir akademis dari kebanyakan orang yang sudah sangat pro politis.

Aktivis Hukum dan HAM, Anggiat Gabe Maruli Sinaga menyampaikan, jika setiap pernyataan yang disampaikan seseorang dalam konteks perdebatan akademis bisa dilapor-laporkan, maka akan berakibat fatal bagi kemerdekaan berbicara dan berdemokrasi di Indonesia.

“Rocky Gerung tidak layak dilaporkan. Apalagi dilaporkan pidana. Kebebasan berpendapat, argumentasi, menyampaikan ide, gagasan merupakan watak dari negara demokrasi. Dan saya lihat, itu yang dilakukan Rocky Gerung. Sehingga lapor melapor yang terjadi, hanyalah pemikiran sempit dan cenderung untuk mengkriminalisasi dan mengintimidasi lawan politik oleh para pelapor,” tutur Anggiat Gabe, di Jakarta, Jumat (01/02/2019).

Mantan Aktivis Pergerakan Mahasiswa ini menegaskan, rezim otoriter tidak akan memberikan leluasa bagi individu, kelompok dan masyarakat, untuk menyampaikan argumentasi secara bebas ataupun leluasa. “Demokrasi tanpa hukum akan melahirkan negeri yang bar-bar,” ujarnya.

Tradisi akademis yang terjadi di belahan dunia Barat seperti Eropa dan Amerika, memberikan jaminan kemerdekaan bagi setiap Individu, kelompok atau masyarakat dengan batas-batas yang berlandaskan hukum. “Kebebasan itu dibatasi oleh hokum,” ujarnya.

Menurut Advokat yang berdomisili di Jakarta ini, Rocky Gerung dengan keilmuan, kecerdasan serta kemahirannya dalam retorika mengatakan di Forum Indonesia Lawyers Club (ILC) bahwa Kitab Suci adalah fiksi, tidak perlu dipelintir menjadi jenis-jenis penistaan oleh segelintir orang.

Meskipun pernyataan itu membuat sebagian publik di negeri ini mengalami perdebatan, seperti di kalangan mahasiswa, cendikiawan, akademisi, praktisi hukum, para ulama atau tokoh agama, namun harus dilihat dalam konteks percakapannya.

Baca Juga  Marak Kepala Daerah Kena OTT, Mendagri Gagal Bangun Daerah Bersih Korupsi

Menurut Anggiat Gabe, boleh dibandingkan dengan belahan dunia Eropa dan Amerika, yang mana kalangan masyarakat Barat tidak memandang pernyataan Rocky Gerung itu sebagai sebuah persoalan yang penting.

“Pernyataan seperti itu tidaklah polemik atau masalah bagi mereka. Kelompok atheis atau agnostik tentu tidak akan pernah mempermasalahkan bahkan sampai melaporkan statement seperti yang disampaikan Rocky Gerung itu ke pihak kepolisian,” ujarnya.

Pasca ucapan Rocky Gerung di ILC, Lapian dan Abu Janda melaporkan Rocky Gerung dalam kasus penistaan agama. Media tivi danonline sibuk menyiarkan polemik itu.

“Saya pribadi mengakui orisinalitas, karakter dan intelektualitas Rocky Gerung sebagai pengamat dan menguasai dan memahami filsafat,” ujar Anggiat Gabe.

Jika mengacu pada Negara, dimana Indonesia Negara Hukum (Rechtstaat), dijelaskan bahwa individu yang melanggar hukum harus mempertanggungjawabkan perbuatanya secara hokum.

Konteks hukum pidana di Indonesia, lanjut Anggiat Gabe, mengenal asas Nullum Delictum Nula Poena Siene Pravia Lege Poenali, yaitu perbuatan baru bisa dihukum jika ada aturan tertulis terlebih dahululu.

Rocky Gerung diduga melanggar Pasal 156 KUHP mengenai penistaan agama dengan ancaman pidana penjara selama 4 Tahun.

“Pernyataan Rocky Gerung mengenai Kitab Suci Fiksi, menurut saya pribadi tidak memenuhi unsur Pasal 156 KUHP. Karena tidak ada unsur kebencian, permusuhan, penghinaan yang dilakukan oleh Rocky Gerung. Pengertian kata fiksi adalah imajinasi. Bukan fiktif yang memiliki arti kebohongan,” jelasnya.

Menurut dia, jika pihak kepolisian memaksakan proses ini sampai kepada tahapan pelimpahan ke kejaksaan, serta bergulir di Pengadilan, maka tindakan memperkarakan Rocky Gerung dapat dianggap sebagai bentuk abuse of power. “Dan ini pasti akan menjadi preseden buruk dalam sejarah dunia intelektual kita,” ujar Anggiat Gabe.

Baca Juga  Fitra Sambut Hari Keterbukaan Data Internasional

Jika dibiarkan, budaya masyarakat Indonesia akan semakin tergerus ke arah saling lapor, saling tuntut, saling fitnah, saling menuduh serta menumbuhsuburkan watak kebencian dan arogansi di Taman Sari Indonesia.

“Semangat toleransi, keberagaman, cinta damai, kasih, kiranya yang merajut semangat persaudaraan bangsa Indonesia,” ujarnya. (Jhon R)

 

Share this post

PinIt
scroll to top