Halo Pak Menkumham, Tolong Dengar Jeritan Korban Penganiayaan

Renhad Hutahaean, seorang warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan Bukit Semut, Sungailiat, Bangka Belitung. Kedua bola matanya mengalami buta permanen setelah dianiaya berat oleh oknum sipir.

Jakarta, Demokrasi Rakyat-Penegakan hukum masih tajam ke bawah tumpul ke atas. Presiden Joko Widodo diminta membuka mata dan telinga, terhadap persoalan-persoalan penegakan hukum yang terjadi di Tanah Air.

Para pencari keadilan sering terhempas dan dibenturkan dengan settingan atau persekongkolan para aparatur penegak hukum dari mulai tingkat terendah hingga tingkat tertinggi. Tidak sedikit pencari keadilan, yang tidak mendapatkan haknya memperoleh keadilan di Negara hukum ini.

Seperti yang dialami Renhad Hutahaean, seorang warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Bukit Semut, Sungailiat, Bangka Belitung, yang mengalami penganiayaan berat oleh oknum sipir, sehingga menyebabkan kedua bola matanya mengalami buta permanen.

Ernita Simanjuntak, adalah Ibu dari Renhad Hutahaean. Pada Minggu 10 Februari 2019, Ernita kembali datang ke Jakarta. Ini adalah kali kedelapan, wanita yang merupakan seorang Guru Sekolah Dasar di Kabupaten Sungailiat, Bangka Belitung itu hendak mengadukan persoalan berat yang dialami Renhad Hutahaean.

Ernita Simanjuntak bersama anaknya Renhad Hutahaean

Ketika bertemu (Minggu, 10 Februari 2019), wanita berusia 57 tahun itu memaparkan, maksud dan tujuan kedatangannya ke Jakarta adalah untuk bertemu dengan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna H Laoly dan Presiden Joko Widodo.

“Tidak ada yang mendengar persoalan penganiayaan berat yang dialami putraku Renhad. Mulai dari Sipir, Jaksa, dan pengadilan di sana, semuanya penuh kebohongan dan persekongkolan. Saya ke Jakarta hendak menemui langsung Menteri dan Pak Presiden Joko Widodo, saya mau sampaikan secara langsung,” tutur Ernita Simanjuntak.

Padahal, ke Jakarta, bukan sekali dua kali dia mendatangi kantor-kantor instansi terkait, agar laporan dan kondisi anaknya diperhatikan. Renhad telah menjadi korban penganiayaan berat yang dilakukan oleh sipir di Lapas Bukit Semut, Sungailiat, hingga kedua bola matanya mengalami kebutaan.

Selain hendak bertemu langsung dengan Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna H Laoly dan Presiden Joko Widodo, Ernita juga menyempatkan bertemu pengacara beken Hotman Paris Hutapea.

“Tadi pagi kami ke Kopi Joni dan bertemu lagi dengan Pak Hotman Paris Hutapea. Saya kembali menyampaikan agar saya juga diperjuangkan memperoleh keadilan. Ini kedua kalinya saya menjumpai Pak Hotman Paris. Yang pertama, dia menyuarakan persoalan ini dan dilakukannya,” tuturnya.

Hampir semua kantor yang berkenaan dengan persoalan yang dihadapinya sudah pula dikirimi surat. Mulai kantor Ombudsman Republik Indonesia, Kantor Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Kantor Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), Kejaksaan Agung, Mabes Polri bahkan ke Sekretariat Negara.

“Kalau hari ini tidak bisa bertemu, saya akan pulang dulu lagi ke Bangka Belitung. Sebab, saya harus bekerja dan mengajar, serta melihat Renhad di penjara. Saya akan sempatkan jika ada ada waktu dating lagi,” ujar Ernita.

Menurut Ernita, anak sulungnya itu tidak melakukan pelanggaran dan tidak melakukan kesalahan selama berada di dalam Lapas. “Kok saya dan anak saya dianiaya. Saya mengadu pun tidak digubris, malah saya mendapat penekanan supaya saya tidak ke Jakarta, dan melarang saya melaporkan persoalan ini. Bapaknya Renhad pun mengalami sakit dan meninggal dunia dikarenakan memikirkan perlakuan yang dialami Renhad,” ujarnya menitikkan air mata. (Jhon R)

Baca Juga  Pemblokiran Konten Anti Pancasila Perlu Penjelasan ke Publik

Share this post

PinIt
scroll to top