Jumlah Peternak Unggas Mandiri Terus Menyusut, Peternakan Dikuasai Pemain Besar

Jakarta, Demokrasi Rakyat – Peternak Mandiri Broiler, Guntur Rotua menuturkan, sejak dirinya menggeluti usaha sebagai Peternak Ayam Broiler Mandiri pada 2012, sudah banyak peternak rakyat yang usahanya gugur.

“Jumlah Peternak Mandiri terus menurun. Kami tidak bisa melawan penguasa dan para perusahaan yang memiliki kekuatan finansial besar, apalagi mereka berkolaborasi, ya kami tidak akan sanggup menghadapinya,” tutur Guntur Rotua.

Bergugurannya Peternak Rakyat dari usahanya sebagai Peternak Mandiri, dikarenakan banyak faktor.

Selain faktor kebijakan pro peternak rakyat yang tidak pernah diimplementasikan, penguasaan segala sumber daya dari hulu ke hilir kini dikuasai oleh segelintir perusahaan besar. Selain itu, pangsa pasar pun mereka kuasai. “Kami terus dipaksa agar kolaps,” ujarnya.

Permainan harga juga dikuasai oleh para perusahaan besar. Sayangnya, para broket atau calo pun turut memperkeruh. Harga jual dari Peternak mandiri rendah sekali, sedangkan dari para perusahaan besar tinggi. Tidak adanya keuntungan yang diperoleh para peternak mandiri, memaksa mereka untuk membayar hutang dan akhirnya menyerah pada perusahaan besar, hingga gulung tikar.

“Sementara, pemerintah dan Negara tidak berpihak kepada kami para peternak mandiri,” ujarnya.

Hal-hal simbolis belaka yang sering terjadi. Seperti para Peternak Mandiri diikutkan dalam meeting-meeting terkait kebijakan, nyatanya tidak pernah dilaksanakan.

Selain itu, iming-iming bantuan atau suplai bagi peternak mandiri pun tidak pernah terealisasi. “Kami sangat berharap, pemerintahan ini mendengar kami, supaya ada perbaikan kebijakan. Misal, Kementan bikin peraturan, tapi di tingkat eksekusinya tidak jalan. Entah kenapa. Saya kurang faham permainan mereka. Kebijakan yang mereka buat itu tidak ada usaha mengimplementasikannya sendiri oleh mereka kok,” tutur Guntur Rotua.

Bahkan, jika para peternak hendak menyuarakan kesulitan dan penderitaannya, lanjut dia, dalam beberapa kejadian malah diintimidasi dan ditekan.

“Mau demo aja, peternak ditekan oleh pihak Kementerian dengan pihak perusahaan besar. Bisa dengan tawaran atau iming-iming akan diberikan fasilitas kredit besar, yang penting jangan demo. Ya istilahnya, dicoba disuap dengan kebijakanlah,” ujarnya.

Atau, jika peternak mandiri memiliki hutang, dan ternyata dia beruara, maka kalau protes keras, pada saat itu juga hutang dan jaminannya diminta.

“Sebetulnya kami mau ada perubahan yang lebih baik. Kondisi berat dan mematikan peternak rakyat ini harus diakhiri,” tutupnya.

Sekretaris Jenderal Gabung Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) Sugeng Wahyudi menjelaskan, yang paling parah adalah dalam 6 bulan belakangan ini, para peternak mandiri mengalami kerugian yang sangat besar.

“Biaya produksi lebih mahal, eh ketika mau jualan kok tiba-tiba harga jual turun drastic,” ujar Sugeng.

Dia menjelaskan, biaya produksi itu menjadi mahal dimulai dari sector hulunya. Sektor hulu sendiri dikuasai oleh segelintir perusahaan besar.

“Kenapa kita berproduksi bisa mahal, karena sarana produksinya mahal, misal pakannya mahal, BOC (Anak ayam), dan obat-obatan-nya mahal, tetapi harga jual malah rendah,” tuturnya.

Menurut Sugeng, para peternak mandiri sudah pernah diajak meeting, agar perusahaan-perusahaan besar tidak memonopoli sector hulu. Nyatanya, para perusahaan itu malah mengekspansi dan menguasai pertenakan juga.

“Lah malah mereka juga ikut beternak. Pasti kami akan kalah bersaing dong dengan mereka ini,” tuturnya.

Sebenarnya, lanjut dia, ada ketentuan, bahwa jika produksi ayamnya mencapai 50 persen atau 300 ribu ekor per minggu, maka produsen seperti itu harus memiliki rumah potong sendiri.

“Seharusnya, itu bisa dilakukan. Supaya kami para peternak mandiri bisa hidup di pasar-pasar tradisional. Tolong jangan dirambah dan diintervensi dengan cara ekspansif dong ke pasar tradisional,” pintanya.

Selain itu, menurut dia, peran para broker yang mencari keuntungan dan mempermainkan harga di pasaran, diduga juga menjadi kaki tangan para perusahaan besar itu.

“Kami memasarkan di tempat yang sama dengan mereka. Harga tidak kompettitif, pasti kami dapat harga yang lebih tinggi, sedang mereka rendah, dan produk mereka yang diambil. Ada juga broker atau perantara, di sini mereka turut mempermainkan harga di pasaran. Mereka juga punya broker, yang pro ke mereka,” jelas Sugeng.

Hari ini, lanjutnya, sangat terasa sekali ketidakmampuan dan instrument-instrumen Negara untuk melindungi peternak rakyat.

“Kok peternak kecil yang menjadi korban. Di sinilah Negara tidak punya keberdayaan kepada pro peternak mandiri. Negara malah tidak membantu, perusahaan juga tidak membantu peternak mandiri,” ujarnya.

Perlu diingatkan, lanjut dia, selama ini tidak ada subsidi pada peternak mandiri. Sebab, 100 persen kebutuhan peternak mandiri dibeli sendiri, dan semua produk yang dibutuhkan itu dikuasai oleh perusahaan besar.

“Ada kebijakan beli jagung murah waktu itu, kepada peternak boiler, tetapi kita mesti koordinasi ke perusahaan-perusahaan besar itu, dan kami harus beli dengan cash and carry. Tidak ada manfaatnya bagi kami,” katanya.

Hingga tahun lalu keseluruhan peternak mandiri di Indonesia mencapai 2,5 juta peternak. Namun jumlah itu menurun drastis karena gulung tikar.

Sugeng membeberkan, di Bogor saja, tadinya ada 200 orang peternak mandiri, dan kini tinggalhanya 30 orang.

“Turun drastis. Ini tren, dan di daerah lain juga terjadi penurunan yang drastik. Ada dominasi kelompok-kelompok besar di sektor peternakan ini. Peternak rakyat mati, perusahaan dan pengausa ayam sudah bergeser ke perusahaan besar. Itu tidak dibagi ke peternak rakyat dan Negara tidak bisa berbuat apa-apa,” bebernya. (Jhon R)

Baca Juga  Gelar Aksi Unjuk Rasa, Para Peternak Unggas Minta Keadilan

Share this post

PinIt
scroll to top